Fakultas Teknologi Industri UMI Perkenalkan Film Tenripada

Fakultas Teknologi Industri UMI Perkenalkan Film Tenripada
Film Tenripada (Koleksi Sorong Terkini)

Terkini.id, Sorong – Studio CGV Mall Panakukang dipadati para penonton dan undangan dalam rangka memperkenalkan film Tenripada, Ahad, 8 Maret 2020.

Film Tenripada merupakan prakarsa lokal, dengan cerita lokal. Bahkan dalam Bahasa Indonesia dengan dialog Makassar.

Ini menjadi tanda bahwa bukan hanya monopoli budaya tertentu yang dapat dijadikan sebagai narasi film.

“Sebagai lembaga Pendidikan, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia (UMI) tidak saja berada di dalam gedung,” tutur Zakir Sabara H. Wata, Dekan FTI UMI, usai pemutaran perdana film.

Zakir menuturkan bahwa film Tenripada menjadi wadah kolaborasi sehingga sumber daya lokal dapat diberi pentas.

“Selama ini, semuanya sentralisasi, di pulau lain. Dengan adanya prakarsa melalui film Tenripada, akan menjadi daya dukung bagi potensi lokal,” disampaikan Zakir dalam mengemukakan maksud pembuatan film.

“Talenta-talenta muda di Makassar dan Sulawesi Selatan, tidak kalah kreatifnya. Maka perlu digerakkan secara bersama, salah satunya melalui film,” kata Zakir yang menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Brawijaya, Malang.

Film ini versi panjang dari seri sebelumnya “Yang Sebenarnya”, dan “Terlambat”. Dua seri tersebut mengantar ketika menonton film Tenripada.

“Walaupun demikian, bisa saja menonton film Tenripada tanpa menonton seri sebelumnya,” demikian disampaikan Zakir semasa sesi diskusi usai pemutaran film.

Sesi pemutaran film dihadiri oleh pemeran utama, tim produksi, dan juga YouTuber Makassar. Semuanya bertemu dan mengapresiasi film Tenripada.

Reza Fahlevi, pemeran utama film Tenripada, ketika menjawab pertanyaan sesi diskusi tentang kesulitan film, Reza menjawab bahwa dalam syuting beberapa kendala ditemukan. “Tetapi semuanya dapat diatasi,” kata Reza.

Film Tenripada akan ditayangkan tidak kurang dari 34 studi di Indonesia Timur. Kedekatan budaya dan bahasa dengan masyarakat Indonesia Timur menjadi pertimbangan sehingga pemutaran film dimulai dari Makassar.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Hari Kartini, Perempuan Papua dan Perjuangan untuk Kaumnya

Pesona Danau Framu Ayamaru, di Ibukota Tanah Papua

Covid-19, Antara Kewaspadaan dan Kepanikan Diselingi Ketidaksigapan

Keelokkan Sisi Pantai Malaumkarta, Makbon Sorong

Pulau Doom, Berpersiar Dengan Becak Keliling Sambil Berdisko

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar