Warga Kampung Bugis Terganggu Penambangan

Warga Kampung Bugis Terganggu Penambangan
Kawasan Kamoung Bugis yang Menjadi Lokasi Pertambangan (Koleksi Sorong Terkini)

Terkini.id, Sorong – Warga Aniweho, Kampung Bugis, Kota Sorong temui pengusaha galian C Km. 10, Minggu, 22 Maret, 2020.

Mereka memprotes masih beroperasinya penambangan galian C di wilayah tersebut.

Menurut Mas Eko, aktivis lingkungan hidup, aksi protes warga dilakukan karena penambangan galian C di wilayah mereka sudah mengancam lingkungan.

Juga, berdampak pada kehidupan masyarakat sekitar. Pertambangan tersebut mengakibatkan banjir yang terjadi setiap hujan turun.

Pertemuan yang juga dihadiri oleh OPD-OPD, perwakilan Anggota DPRD Kota Sorong, tokoh masyarakat, dan pengusaha galian C yang membuka pertambangan di Wilayah Kampung Bugis.

Tidak hanya banjir yang menggenangi jalan dan rumah-rumah penduduk.

Lumpur juga memenuhi area jalan yang mengakibatkan kecelakaan pengendara motor karena licinnya jalan raya.

Dihubungi setelah pertemuan, La Ode Samsir menyatakan bahwa masyarakat meminta realisasi dari tujuh tuntutan yang telah disepakati sebelumnya.

Hal ini perlu segera dilakukan mengingat Sorong telah memasuki musim penghujan.

“Limbah galian C itu menutup saluran drainase. Sehinggga air hujan tidak bisa mengalir dan berakibat banjir. Butuh keseriusan semua pihak untuk menyelesaikan masalah ini,” terang pria yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kota Sorong dari PKS.

Sementara itu, pada pertemuan itu diungkap bahwa 33 penambang pasir di Kampung Bugis, hanya 1 penambang yang mengantongi ijin galian C dari Provinsi, selebihnya adalah penambang illegal.

“Tadi saya dan Bang Sabo (Syafrudin Sabonnama) sudah mencatat dan akan menyampaikan hasil kepada pimpinan DPRD Kota Sorong,” kata Samsir.

“Kami akan lanjutkan ke komisi dua dan komisi 3. Kemudian kami akan mendesak untuk diadakannya pertemuan lanjutan dengan seluruh OPD yang berkaitan dengan masalah galian C di Aniweho ini,” lanjutnya.

Selain itu, Samsir juga menambahkan bahwa wilayah di Kampung Bugis masih terhitung sebagai kawasan hutan lindung, bukan wilayah pertambangan.

Sehingga evaluasi untuk tata ruang juga akan dilakukan.

(Reporter Ngesti Wihaningtyas)

Konten Bersponsor

Berita lainnya

IAIN Sorong Selenggarakan Seminar Nasional Rangkaian Perkuliahan Pascasarjana

Peduli pendidikan Papua Barat, Syaiful Maliki Arief Kunjungi SMU Muhammadiyah Sorong

HMI Badko Sulselbar Selenggarakan Panel Alumni HMI Lulusan Luar Negeri, Disertai Kader Papua Barat

Pascasarjana IAIN Sorong Sertakan Dua Pemakalah Pada Panel Ilmuwan Muda ICEE 2020

Dua Makalah Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sorong Dipresentasikan Dalam ICEE 2020

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar