Seruan MASIKA ICMI Tentang Dana Masjid dan Penanggulangan Bencana: Belajar dari Wamena

Seruan MASIKA ICMI tentang Dana Masjid dan Penanggulangan Bencana:  Belajar dari Wamena
Masjid Baiturrahman Wamena (Koleksi Sorong Terkini)

Ismail Suardi Wekke
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong, – Ketika bencana Wamena terjadi pada Agustus 2019, masyarakat mendapatkan cobaan. Rumah terbakar, kehilangan tempat tinggal, dan hidup di pengungsian.

Sementara bantuan lembaga swadaya masyarakat terbatas. Begitu pula dukungan pemerintah yang sama terbatasnya.

Kampus, dan organisasi keagamaan Islam mulai mencari solusi. Diundanglah para pengurus masjid untuk bermusyawarah di Masjid Baiturrahman, Wamena.

Tokoh masyarakat, warga kampus, dan pengurus masjid se Wamena bermusyawarah dan sampai pada keputusan bahwa dana kas yang ada di di masing-masing lembaga dan masjid dikeluarkan untuk membantu masyarakat yang sementara dalam pengungsian.

Setiap pengungsi, mendapatkan bantuan dalam bentuk uang tunai yang berasal dari himpunan uang organisasi keagamaan Islam dan juga masjid.

Ini sebuah praktik dimana masjid mengalokasikan pendanaan tidak untuk kepentingan operasional masjid secara langsung. Tetapi justru untuk keperluan darurat jamaah masjid.

Dalam kesempatan tersebut, Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Kabupaten Jayawijaya terlibat dalam prakarsa ini dan kemudian melahirkan gerakan tersebut.

***

Majelis Sinergi Kalam (MASIKA) Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) melalui Pengurus Wilayah Sulawesi Selatan menyerukan untuk menggunakan dana kas masjid dalam penanggulangan wabah Covid-19.

Ini merupakan praktik yang kurang lebih sama dengan Wamena, dalam konteks penggunaan dana kas masjid untuk keperluan jamaah.

Padahal, pada saat itu pengurus dan jamaah juga masih memerlukan dana kas masjid untuk kelangsungan pembangunan fisik masjid yang belum selesai.

Namun, untuk sementara dana masjid tidak dialokasikan untuk pembangunan fisik. Justru, dialokasikan untuk kepentingan penanggulangan bencana ketika aksi separatism wujud di wamena ketika itu.

***

Masjid senantiasa perlu relevan dengan keadaan jamaah masjid. Tidak sekadar mengumpulkan dana sumbangan ataupun infaq dari masyarakat, tetapi sepenuhnya dikembalikan ke jamaah.

Ada praktik baik, salah satunya Jogokariyan, Yogyakarta. Masjid ini menggunakan panduan “dana kas masjid untuk jamaah”.

Ini bisa menjadi referensi bagi pengurus masjid. Kemudian disesuaikan dengan kondisi masjid masing-masing.

Tidak harus sama, tetapi disesuaikan dengan kondisi masing-masing masjid.

Pada akhirnya, tidak saja Jogokariyan, begitu juga Wamena, keduanya dapat dijadikan sebagai referensi dimana masjid menjadi rumah bukan hanya untuk sujud saja.

Masjid sejatinya rumah berlindung bagi jamaah. Maka, ketika dalam suasana damai dan tidak ada masalah apapun di masyarakat, masjid senantiasa menjadi tempat berkumpul.

Begitu keadaan bencana atau ada kejadian yang tak diinginkan, masjid juga tetap hadir dengan kepedulian, dan menjaga keperluan jamaahnya.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Hari Kartini, Perempuan Papua dan Perjuangan untuk Kaumnya

Pesona Danau Framu Ayamaru, di Ibukota Tanah Papua

Covid-19, Antara Kewaspadaan dan Kepanikan Diselingi Ketidaksigapan

Keelokkan Sisi Pantai Malaumkarta, Makbon Sorong

Pulau Doom, Berpersiar Dengan Becak Keliling Sambil Berdisko

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar