Inilah Indonesia Kita

Inilah Indonesia Kita
Dapur Kita, Warung di Sudut Kota Sorong (Koleksi Sorong Terkini)

Terkini.id, Sorong – Ketika Wuhan masih berjibaku untuk menuntaskan masalah yang menghadang, warga Indonesia masih bersenda-gurau tentang korona.

Satu dua pejabat menyatakan “korona tidak akan masuk, perizinan yang terlalu rumit”.

Begitu juga dengan gurauan lain tentang susu kuda liar, dst.

Itulah Indonesia kita, dimana masalah dihadapi dengan guyonan dan juga senda gurau. Selera humor yang berbeda-beda, menyebabkan humor yang juga berbeda.

***

Begitu kasus pertama diumumkan 2 Maret 2020, kepanikan mulai terjadi. Namun apapun yang terjadi keberadaan warganet tidak bisa dikesampingkan.

Candaan dan juga hastag menjadi alat percakapan mereka. Bahkan warganet menyurakan bahwa perlunya tim khusus yang bukan dipimpin mentri.

Suara ini disikapi pemerintah dengan membentuk satgas, dan juga juru bicara yang khusus menangani Covid-19.

Walaupun demikian, ada saja kesilapan komunikasi. Sehingga terkadang juru bicara presiden harus meluruskan sebuah berita, atau memberi klarifikasi.

Pemerintah kita, sangat siap menghadapi masalah ini. Hanya saja, koordinasi dan juga komunikasi kadang menjadi penghalang.

***

Bukan saja soal penyakit. Tapi kesediaan menghadapinya mengalami ujian. Tenaga kesehatan satu demi satu wafat. Gugur karena terpapar penyakit ini.

Sementara alat perlengkapan bukan saja kurang, bahkan tidak ada di pasaran.

Begitu pula masker, vitamin, yang menjadi barang langka. Kalau itu, berhubungan langsung dengan penanggulangan penyakit.

Bagaimana dengan gula pasir? Juga turut hilang. Bahkan tidak tersedia sama sekali. Kalaupun ada, harganya sudah mencapai 25 ribu perliter. Naik dua kali lipat dari harga sebelum wabah merebak.

***

Pegawai dirumahkan. Murid dan siswa, juga mahasiswa belajar dari rumah. Namun, penjual coto tidak bisa menutup warungnya selama wabah ini terjadi.

Setelah dua pekan tutup, satu penjual coto memutuskan untuk buka. Cicilan ruko yang ditanggungnya wajib dibayar.

“Di negara komunis, berpendapat tidak bebas. Tetapi pendapatan dicukupkan.” Dilanjutkan lagi, “di negara liberal, pendapat bebas merdeka. Urusan pendapatan menjadi urusan yang juga dibebaskan.”

Sementara di satu negara “pendapat dikekang. Sementara pendapat tidak disiapkan.”

Itulah Indonesia kita, di tengah paceklik sekalipun tetap saja ada canda dan gurauan.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Hari Kartini, Perempuan Papua dan Perjuangan untuk Kaumnya

Pesona Danau Framu Ayamaru, di Ibukota Tanah Papua

Covid-19, Antara Kewaspadaan dan Kepanikan Diselingi Ketidaksigapan

Keelokkan Sisi Pantai Malaumkarta, Makbon Sorong

Pulau Doom, Berpersiar Dengan Becak Keliling Sambil Berdisko

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar