Dia yang Tegar di Tengah Badai Korona

Dia yang Tegar di Tengah Badai Korona
Warga Terdampak Wabah Korona (Koleksi Sorong Terkini)

Terkini.id, Sorong – Penjual pinang dan bensin eceran di Jalan Pendidikan, Kota Sorong.

Sebelah kakinya pincang. Usianya udzur 74 tahun. Namun lelaki tua ini tetap keluar rumah. Tak tampak wajah lelah dan mengeluh di raut mukanya.

Ia juga ramah dan tersenyum kepada siapa saja. Mathias Krimadi namanya.

Semangatnya bak topi baja. Terus menderu, meski usia tak muda lagi dan salah satu fisik kaki dengan disablitas.

Di usia senior ini, apalagi dengan menyandang disabilitas. Harusnya kakek tujuh anak ini beristirahat di rumah sambil menimang cucu.

Namun itu tak dilakukan, warga senior tangguh asal Sawiat Teminabuan. Tinggal tidak jauh dari lorong jalan utama.

“Saya sudah biasa kerja. Tak enak di rumah saja. Meski anak cucu keluarga melarang,” ujarnya.

Pekerjaan yang dilakukan Marthinas sebelum ini, tergolong lebih ekstrim lagi. Menurutnya, jauh tahun sebelum ia alih profesi jadi pedagang kecil bensin dan pinang.

Puluhan tahun dirinya menjadi buruh kasar dari pengusaha kayu Belakang Hotel You n Me, H. Hamis.

Bahkan setelah H. Hamis meninggal dan usaha kayu dilanjutkan putra sulungnya H. Idham, Marthinas tetap bermitra dengan pengusaha asal Maros tersebut.

“Iya, saya lama jadi karyawan pengantar kayu mereka berdua, H. Hamis dan H. Idham,” ujarnya.

Semangat pantang menyerah Marthinus saat jadi buruh kasar pengantar kayu tersebutlah rupanya yang tersisa saat ini.

Walaupun dengan keterbatasan, kaki yang berfungsi pada tungkai sebelah saja, dialaminya sebelum bekerja sebagai buruh kasar pengantar kayu.

Namun, sudah lebih lima tahun ini, pekerjaan tersebut ditinggalkannya.

Selain karena faktor usia. Fisik Marthinas tentu tak bisa diajak kompromi jika harus mengantar kayu pelanggan yang jaraknya jauh.

Apalagi, ia kalah bersaing dengan mobil pick up yang tentu lebih bertenaga dan bisa memuat kayu lebih banyak.

Sejak tak lagi jadi pengantar kayu dengan gerobak itulah, kini, Marthinas tetap tegar.

Kakek asli Papua ini seolah ingin membuktikan, bahwa hidup tak boleh cengeng.

Saat ditanya, apa ia tidak takut jualan di tengah isu Korona dan anjuran lockdown dari pemerintah?

Ayah dari enam orang anak ini hanya tersenyum.

Dia mengatakan, dirinya tidak takut.

Raut mukanya yang polos hanya tersenyum.

Sejurus kemudian lelaki paruh baya ini mengatakan bersyukur karena kemarin menerima paket beras, gula dan minyak goreng dari salah satu BUMN.

(Kontributor Muhammad Adnan Firdaus)

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Hari Kartini, Perempuan Papua dan Perjuangan untuk Kaumnya

Pesona Danau Framu Ayamaru, di Ibukota Tanah Papua

Covid-19, Antara Kewaspadaan dan Kepanikan Diselingi Ketidaksigapan

Keelokkan Sisi Pantai Malaumkarta, Makbon Sorong

Pulau Doom, Berpersiar Dengan Becak Keliling Sambil Berdisko

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar