Ini kisah Imam, Ditinggal Ayah Sejak Umur Dua Tahun

Ini kisah Imam, Ditinggal Ayah Sejak Umur Dua Tahun
Imam, Warga Panti Putra Muhammadiyah Sorong (Koleksi Sorong Terkini)

Terkini.id. Sorong – Suaranya bening. Apalagi saat kumandangkan adzan. Imam Alfi Syahri Mudakkar namanya.

Usianya 13 tahun. Sudah hampir dua tahun ini jadi binaan tetap di Panti Putra Al-Amin Muhammadiyah.

Ia tertunduk saat ditanya soal ayahnya. Matanya berkaca-kaca.

Suasana hening sejenak. Ia kehilangan figur ayah, di masa golden agenya, 2 tahun.

Sejak itu, ibunya Siti Amina yang hanya tamat SD di Desa Nelayan Atkari Misol. Merawatnya sebagai orang tua tunggal dengan berjualan kue di kampung.

Ayah Imam Mudakar meninggal setelah lama menderita sakit lumpuh. Mungkin itu efek pekerjaannya sebagai buruh kasar di Pelabuhan Misol Raja Ampat, Papua Barat.

Saban waktu, setiap ada kapal masuk, ayahnya tercinta meski bermandi peluh mengangkat barang dari kapal.

Apapun pekerjaan, asalkan halal, pasti dilakoni ayahnya asal Ternate. Dan ibunya yang asal Bone.

Mudakar, ayah Imam, wafat dengan meninggalkan 1 orang istri dan 6 orang anak.

Termasuk Imam yang saat itu berusia 2 tahun. Dan adik bungsu perempuan bernama Suci Angriyani.

Jika Imam saat ditinggal wafat ayahnya baru umur 2 tahun. Lebih tragis dan berat ujian si bungsu. Karena adiknya itu baru usia 2 bulan.

“Imam usia 2 tahun. Adiknya bungsu Suci Angriyani masih umur 2 bulan,” ujar Siti Amina, Ibu Kandung Imam Alfisyahri, saat berkomunikasi dengan contributor Sorong Terkini.

Sudah hampir 2 tahun ini, Imam Alfisyahri jadi binaan tetap di Panti Putra Al-Amin Muhammadiyah Kota Sorong dan bersekolah di MTS Muhammadiyah.

Sejak pemerintah pusat dan daerah baik secara formal maupun informal menghimbau karantina sosial.

Anak-anak sekolah dan madrasah se Indonesia diliburkan. Tak terkecuali Imam Alfisyahri yang bersekolah di MTS Muhammadiyah Kota Sorong. Dan saat ini duduk di bangku Kelas VII.

“Pengennya tetap sekolah dan kumpul dengan teman- teman,” ujar Imam Alfisyahri.

Itu jawaban dia, saat ditanya lebih nyaman sekolah atau terkarantina selama bencana Covid-19.

Namun demikian, Imam Alfisyahri mengaku bersyukur, sebagai binaan di Panti Putra Al-Amin Muhammadiyah.

Masih ada saja orang, individu atau lembaga yang berdonasi dan menjenguk mereka di Panti Putra Al-Amin Muhammadiyah.

Meski mengaku kerapkali rindu dengan ibu dan kampung halamannya.

Apapun itu, Imam Alfisyahri tetap semangat. Juga banyak syukur dan sabar.

Iapun mengimbau teman-teman sebayanya di pelosok negeri, di seluruh Indonesia, dimanapun berada untuk tetap tegar dan berdoa, agar badai Korona ini segera berlalu.

“Harapan saya, bersyukurlah yang masih punya orang tua. Semangatlah belajar karena masih berkumpul sama orang tua,” ujarnya.

Menurutnya, jika dirinya dan kakak-kakak binaan di Panti Putra Al-Amin Muhammadiyah saja semangat padahal jauh dari kampung dan tidak ada orang tua lagi.

Maka tak terpahami jika ada yang orang tuanya lengkap dan tinggal serumah. Tidak semangat hadapi ujian Korona ini.

“Kalau kami anak yang tinggal di panti semangat, masa kalian tidak semangat,” ujar Imam Alfisyahri di ujung wawancara sambil tersenyum.

Imam Alfisyahri mengemukakan kalimat motivasinya dengan mengutip pepatah Arab lawas “Man Jadda wa Jada.”

(Reporter Muhammad Adnan Firdaus)

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Soeharto 99 tahun yang Berlalu, Warisan Masa Lalu ke Masa Kini

Sebuah Fenomena, Dermawan Covid-19

Menelisik Susu Kurma, Bisnis Menguntungkan Dalam Ramadhan

Nanti Kita Cerita di Akhir Ramadhan

Abdul Rauf Abu, Mata Air Kembar Pejuang NKRI dan Dakwah

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar