Hari Kartini, Perempuan Papua dan Perjuangan untuk Kaumnya

Hari Kartini, Perempuan Papua dan Perjuangan untuk Kaumnya
Noken, Lambang Kultural Perempuan Papua (Koleksi Sorong Terkini)

Ismail Suardi Wekke
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Dalam suasana badai Covid-19, kita syukuri Hari Kartini. Hari yang menjadi lambang perjuangan para perempuan.

Kartini, dijadikan simbol perempuan Indonesia. Tidak hanya Kartini, perempuan Indonesia selalu juga hadir dalam setiap momentum kebangsaan.

Mengambil hari lahir Kartini, untuk menjadi ingatan dan kesyukuran, betapa perempuan Indonesia juga turut dalam perjuangan untuk bersanding dengan laki-laki dalam peran-peran kebangsaan.

Walau kadang digambarkan dengan konde dan kebaya, namun sesungguhnya perempuan Indonesia bukan tentang dua itu. Bukan perjuangan untuk tampil “maju mundur cantik” sebagaimana lagu Syahrini.

***

Dalam perjalanan ke Teminabuan, Sorong Selatan, suatu waktu saya bertemu dengan perawat-perawat yang bertugas dengan kontrak pemerintah kabupaten.

Mereka kerap mendapati perempuan Papua justru melahirkan tanpa didampingi bidan sama sekali. Mereka berjuang untuk melahirkan anak kesayangan, pada saat yang sama mereka berhadapan dengan kondisi yang tidak ada pertolongan sama sekali.

Sehingga tingkat kematian bayi, bukan lagi sebuah angka yang dipertanyakan. Bahkan sudah menjadi kelaziman.

Justru ketika perempuan yang melahirkan didampingi tenaga kesehatan, itulah yang menjadi mukjizat. Sejak awal ibu-ibu, tidak mengharap apa-apa soal persalinan dengan bantuan bidan.

Itu satu kondisi, tentu bukan satu-satunya. Kita bisa menyaksikan potret lainnya yang berkebalikan dari semua itu.

***

Dalam skala Tanah Papua, ada nama Welly Tigtigweria, Patronela Kambuaya. Dua diantara perempuan-perempuan Papua yang turut dalam kegiatan publik. Keduanya menduduki posisi teratas dalam karirnya maring-masing.

Dian Mega Erianti Renouw, memimpin Universitas Kristen Papua. Menjadi nahkoda di perguruan tinggi. Menggerakkan dunia akademik yang tentunya bukan hanya digeluti perempuan. Laki-lakipun menjadi kolega dan bawahannya.

Irene Manibuy, satu nama lagi. Menjadi wakil gubernur di Papua Barat 2012-2017 menggantikan Rahimin Katjong yang wafat semasa menduduki jabatan yang sama.

Yohana Susana Yembise, satu nama yang dikenal nasional. Perempuan yang juga guru besar di Universitas Cendrawasih. Menjadi simbol perempuan Papua dengan kapasitasnya mengemban tugas sebagai mentri di Kabinet Kerja 2014-2019.

***

Perempuan Papua sudah memiliki daya sanding dan kemampuan untuk berada di ranah publik. Hanya saja, itu tak mencerminkan proporsional sesuai jumlah yang ada.

Stigma masih menjadi keseharian mereka. Bahkan budaya patriarki menjadi masalah tersendiri. Kasus-kasus dimana perempuan dijadikan sebagai barang jualan.

Ketika mereka dinikahi, mahar yang diserahkan kepada pihak keluarga perempuan dianggap sebagai pembelian.

Hari Kartini menjadi momentum yang tepat. Kembali menyengarkan ingatan dan membuka kembali data-data.

Betapa perempuan Papua, masih tidak mendapatkan akses layanan kesehatan. Juga kesempatan untuk memberdayakan dirinya.

Darimana memulainya? Dimulai dari laki-laki, untuk memberi mereka kesempatan. Untuk dirinya sendiri dan akan berimbas juga keuntungannya pada laki-laki.

Selamat hari Kartini, hari perempuan untuk disyukuri dan mengingat kebaikan bunda kita masing-masing. Dimana tak ada satu manusia apapun yang tak lahir dari rahim perempuan.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Pesona Danau Framu Ayamaru, di Ibukota Tanah Papua

Covid-19, Antara Kewaspadaan dan Kepanikan Diselingi Ketidaksigapan

Keelokkan Sisi Pantai Malaumkarta, Makbon Sorong

Pulau Doom, Berpersiar Dengan Becak Keliling Sambil Berdisko

Dia yang Tegar di Tengah Badai Korona

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar