Mengukir Konsolidasi Keluarga dalam Ibadah dan Covid-19

Mengukir  Konsolidasi Keluarga dalam Ibadah dan Covid-19
Dr. Hamzah (Koleksi Sorong Terkini)

Terkini.id, Sorong – Telah menjadi pengalaman dan pengetahuan dunia bahwa pandemik covid19 atau dikenal dengan virus corona, membawa pengalaman baru bagi masyarakat informasi dewasa ini.

Pengalaman baru inu bukan hanya dunia kesehatan, tapi negara, ilmuan dan pebisnis serta agamawan. Pengalaman bagi berbagai kalangan itu, tidak saja cara penanganan sebagai ranah kesehatan, tetapi implikasi yang ditimbulkannya pada berbagai aspek kehidupan

Dari sisi penanganan sebagai ranah kesehatan tidak dapat dilakukan secara sektoral, tetapi prinsip integratif komprehenshif mestinya menjadi pilihan.

Adalah pemerintah menerbitkan protokol kesehatan, lalu dibentuk tim satgas corono, lalu fatwa MUI, disusul kebijakan pembatasan transportasi baik udara maupun darat, serta penyediaan fasilitas kesehatan dan pengawasaannya.

Bagi mereka yang terduga bersinergi dengan virus ini, semuanya menunjukkan bahwa penanganan virus ini dari isu kesehatan telah berubah menjadi isu kemanusiaan; dari sebab menjadi akibat dan implikasi.

Baca juga:

Menurut ilmuwan kesehatan, telah terjadi kehawatiran di kakangan mereka karena virus ini yang masih mesteri, sebab belum ditemukan obat yang bisa ditetapkan secara ilmiah, dan sisi lain penyebarannya sangat cepat.

Untuk Indonesia misalnya, penetapan zonasi baik merah, kuning dan hijau, tidak berarti bahwa sudah dapat diketahui secara pasti tentang tingkat penyebarannya, karena munculnya istilah orang tanpa gejala (OTG) dalam arti tipikal ini, sangat tidak terdeteksi secara dini, namun ini membawa kepada kematian.

Logika zonasi dibangun dengan mempehitungkatn tingkat penyebaran virus ini dengan memperhatikan data terkait. Semakin banyak data terkait person dengan virus ini, dan tingkat bahayanya, maka zonasi merah menjadi pilihan.

Ibadah dan Corona

Memperhatikan surat edaran menteri agama, dan fatwa MUI, lalu berbagai edaran pejabat terkait, maka untuk umat Islam, ditemukan praktek ibadah yang bersamaan waktu pelaksanaannya dengan pandemik Covid-19.

Praktek ibadah itu antara lain, shalat jamaah di masjid, shalat jumat, pelaksanaan amaliyah ramadhan dan hari raya idul fitri. Baik edaran Menag maunpun fatwa MUI memberikan pandangan untuk memilih umat Islam beribadah di rumah dibanding dengan masjid.

Karenanya terdapat ibadah tertentu yang secara protokol fikhiyah, harus dilakukan di luar rumah (masjid) dan karenanya harus tergantikan dengan ibadah yang lain di rumah. Dengan menggunakan dalil agama dan mengikuti pandangan ulama terdahulu misalnya “dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbi al-mashalih” usaha menolak mudharat didahulukan dari pada memperoleh manfaat.

Selain qaidah ushul fikhi seperti penjelasan yang disampaikan az-Zarqa, (w.1357H) juga sering digunakan teori asy-Syathibi (w. 790 H/1388 M) yang disebutnya dalam kitabnya al-Muwafaqat, adh-adharuriyat al-khamsah. Saya mengartikan teori itu ” lima pilar kehidupan “, yaitu: agama, jiwa, keturunan, harta dan akal.

Terkadang penyebutan kelima pokok ini, oleh agamawan tertentu menyebutnya, tujuan agama dengan menyebut maqashidusysyariah yang juga disandarkan kepada asy-Syathibiy.

Meskipun diakui bahwa pemilik teori secara gamblang menyebut hifdun, yang artinya pemeliharaan. Secara implikatif bahwa kelima hal itu wajib dipelihara dalam mengarungi kehidupan ini.

Berdasarkan kaidah dan teori tersebut maka kebijakan baik berupa surat edaran Menag dan fatwa MUI memberikan landasan besar antara protokol kesehatan dan protokol fikhiyah, sehingga dalam kajian hukum Islam disebut melahirkan ijtihad.

Konsolidasi Keluarga

Bagaimana respon umat Islam terhadap surat edaran dan fatwa MUI dimaksud, tampaknya kurang waktu untuk mendiskusikan. Tetapi saya cenderung untuk mengemukakan fakta secara umum bahwa ajakan tinggal aja di rumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah, memberi konsep baru dalam kehidupan millinial ini.

Tulisan ini ingin menunjukkan betapa Rasul Muhammad Saw memberi perhatian khusus dalam pembinaan keluarga. Disebutkan dalam hadis Nabi, bahwa sekembali dari gua hira, pasca pertemuan malaikat

Komentar

Rekomendasi

Akhir Ramadhan dalam Perjuangan dan Solidaritas, Melewati Wabah Covid-19

Patologi Sosial Dalam Pandemi

Bahaya Lain Covid-19

Covid-19, Pandangan dari Kaca Mata Antropologi

Virus Corona Pasti Berlalu

Stres Masyarakat Dalam menghadapi Covid-19

Covid-19 dalam Musibah, Ujian atau Rahmat, Pandangan Alquran

Covid-19, Uraian Terma Alquran tentang al Bala

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar