Manusia, Jeda, dan Makhluk Tuhan yang Diberi Nama Corona

Manusia, Jeda, dan Makhluk Tuhan yang Diberi Nama Corona
Yusuf Effendy (Koleksi Sorong Terkini)

Terkini.id, Sorong – “Masa sih virus Corona dari kelelawar? Bukannya orang sudah makan itu sudah lama tetapi kenapa virusnya baru ada sekarang?”

“Ah, ini pasti senjata biologis buatan”

“Kenapa dulu pemerintah tidak cepat-cepat tutup akses penerbangan kah? Toh, jadinya begini”

“Karma, dulu Corona dijadikan bahan candaan tapi sekarang kita juga kena”

“Rumah ibadah ditutup tapi kenapa tempat lain masih dibuka? Takutlah hanya kepada Tuhan saja!”

Baca juga:

Dan sederet pernyataan lain yang pernah kita lihat belakangan ini, atau diri kita sendiri pun pernah mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih serupa.

Dari sana, kurang lebih kita bisa melihat. Dari realitas yang terjadi sekarang, manusia berusaha mencari jawaban atas kegelisahan yang dialaminya. Juga argument-argumen nalar yang dikeluarkan berdasarkan tingkat pengalaman dan pemahaman manusia itu sendiri.

Mungkin luput dan di bawah kendali alam sadar. Kita ramai-ramai dan kompak seantero dunia berupaya kembali memfungsikan sesuatu dalam koridor persoalan yang sama. Yaitu berpikir dengan akal, apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia dan prediksi ke depan akibat dampak yang ditimbulkannya.

Pernah suatu ketika seorang teman chat via whatsapp, “Sebentar lagi pak Presiden akan hutang ke bank dunia untuk pembiayaan Negara terus pinjam ke China” , kurang lebih begitu intinya.

Semua bebas bernalar karena dikaruniai akal. Akal, itulah yang membuat kita dibedakan dari makhluk lain dan menjadikannya istimewa. Banyak dari kita pasti sudah mengerti tentang hal ini. Tapi, dari kita yang sudah banyak mengerti, apakah sudah memfungsikan dengan bijak akal yang diberikan?

Apakah dengan akal tadi, kita mampu melihat hikmah yang terkandung di dalam setiap peristiwa? Mengaitkannya dengan kejadian yang pernah ada di masa silam. Atau berusaha menguatkan diri dengan dogma firman Tuhan di masing-masing agama yang kemudian dijadikan pemicu untuk tetap bangkit dan bertahan.

Di dalam Islam, banyak sekali dalil dan kisah mereka para pendahulu yang sarat mengandung muatan unsur hikmah. Sebagaimana Allah yang mempertemukan Nabi Musa untuk belajar kepada Nabi Khidir. Beliau yang awalnya menjelaskan kepada Musa bahwa dirinya tidak akan sanggup bersamanya, dijawab dengan Musa bahwa dirinya akan sanggup bertahan untuk berguru kepadanya.

detik demi detik berlalu, ucapan yang keluar dari mulut Musa pun tidak kuat ia pertahankan. Hingga pada akhirnya Khidir menjelaskan semuanya kepada Musa. Mengapa ia melakukan semua hal tersebut yang notabene di pandangan Musa adalah perbuatan tercela. Hingga jawaban itu menjadi titik nadir permulaan perpisahan Khidir dengan Musa.

Itulah hikmah, butuh waktu untuk mendapatkan jawabannya. Karenanya membutuhkan proses, kemampuan akan kesabaran atasnya senantiasa akan di uji. Bisa jadi kita dihadapkan di situasi sekarang oleh Tuhan karena suatu alasan.

Untuk umat Muslim misalnya. Ramadhan yang biasanya ramai baik di dunia maya maupun nyata kini seolah larut, terkalahkan oleh adanya dampak dari Covid-19. Bisa jadi Allah sengaja membuat kita “berpuasa” sebelum masuknya Ramadhan saat itu. Atau membuat kita benar-benar berpuasa dalam artian perihal yang lebih luas.

Bisa jadi kita umat Muslim dibuat “berpuasa” lebih awal, dengan mencoba membuat yang berkecukupan belajar merasakan menjadi mereka yang ekonominya jatuh akibat dampak corona. Belajar menahan mengunggah makanan di medsos dan mengonsumsi makanan yang enak-enak dan berlebihan, sebagai bentuk empati yang diberikan.

Bukankah jauh-jauh hari baginda yang mulia Rasulullah (semoga kita menjadi golongan orang-orang yang bersama beliau di akhirat nanti, aamin) sendiri sudah mempraktikkan hal itu dalam hidupnya? Ketika Rasulullah kelaparan hingga mengganjal perutnya dengan batu hingga sahabat bertanya padanya.

Padahal jika kita berlogika kembali, Rasulullah bisa dengan sangat mudah mendapatkan makanan yang enak dan di inginkan. Apalagi beliau selain Rasul Allah juga adalah ulama dan umara, pastinya bisa dengan gampangnya mendapatkan kesemua itu beserta dunia dan seisinya bila mau.

Pada hari ini, mungkin Allah benar-benar membuat kita total “berpuasa” dan mencoba mengambil jeda. Dalam artian kita diminta menahan dan mengambil jarak. Bagi yang mampu dan berkecukupan, tahanlah ego untuk mementingkan diri sendiri di saat situasi seperti ini. Mungkin dari sini Allah mencoba mengetuk hati kita untuk mulai berbagi kepada saudara kita yang lain. Bagi kita semua umat Muslim yang terbiasa menunaikan shalat terawih di masjid saat malam bulan Ramadhan. Diberikan kesempatan untuk di uji, mana yang teguh dengan tetap melaksanakan shalat di rumah, atau malah corona dijadikan alasan hingga tak menunaikannya.

Bukankah di saat seperti ini, jika ada yang membantu saudaranya yang kesulitan padahal dirinya sendiri pun kesusahan pahalanya akan dilipat gandakan? Juga mereka yang tetap tegar beribadah sebagaimana Ramadhan sebelumnya di tengah keadaan sekarang? Terlebih di bulan yang mulia, bulan ampunan penuh berkah.

Pada akhirnya, manusia memang telah akrab dan tak asing dengan kata “menahan” dan “jeda”. Menahan untuk berprasangka buruk dengan keadaan sekarang dan jeda dari rutinitas kesibukan manusia pada umumnya.

Dalam contoh yang sederhana, manusia beristirahat pada waktu malam setelah seharian merasakan penatnya beraktifitas. Bukankah itu adalah jeda saudaraku?

Bisa jadi semua yang terjadi sekarang adalah Allah ingin membuat kita menahan sembari mengambil jeda sejenak. “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi itu buruk bagimu, dan boleh jadi sesuatu itu buruk tetapi baik bagimu”, ucapNya.

Ya, tugas kita sekarang adalah bersabar sambil berikhtiar. Bersabar agar makhluk yang diberi nama oleh manusia dengan virus Covid-19 ini lekas diangkat dari seluruh wajah penjuru dunia. Ikhtiar sesuai kapasitas masing-masing, pemerintah berusaha menyelesaikan ini dengan segala perangkat yang dipunyai, para ahli yang tetap gigih mencoba mencari anti virus wabah ini, yang berkecukupan membantu ekonomi mereka yang kekurangan, dan lain-lain.

Kesemuanya tadi pun bukan kebenaran yang mutlak untuk didebatkan, namun boleh menjadi ruang untuk kembali berpikir dan merenungi diri. Kesemua tadi hanyalah menerka-nerka dengan menggunakan akal apa sebenarnya maksud Tuhan di balik semua kejadian ini. Bisa jadi ini benar dan juga sangat mungkin bisa salah.

Namun yang jelas seperti ayat mutasyabihat, alif lam mim, Sad, dan lainnya. Hanya Dia-lah yang mengetahui semua kebenaran yang terjadi secara sejati.

(Yusuf Septian Nur Effendy)

Komentar

Rekomendasi

Menelisik Susu Kurma, Bisnis Menguntungkan Dalam Ramadhan

Nanti Kita Cerita di Akhir Ramadhan

Abdul Rauf Abu, Mata Air Kembar Pejuang NKRI dan Dakwah

Islam dan Budaya Papua

Panti Asuhan Ini Bukan Penerima Sumbangan Justru Mendistribusikan Sumbangan

IAIN Sorong Kampus Dunia Maya

Noer Hasyim Gandi, Pejuang Pendidikan Tanah Papua

Civitas Academica, Frasa yang Sering Menjadi Perdebatan

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar