Mengelola Perbedaan Pendapat di Tengah Mewabahnya Covid-19

Mengelola Perbedaan Pendapat di Tengah Mewabahnya Covid-19
Merpati sebagai Lembang Perdamaian (Koleksi www.shutterstock.com)

Syahrul, MA.
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Pandemi Covid-19 memunculkan dua sikap beragama yang terkadang memantik fanatisme dalam beribadah, khususnya terkait pelaksanaan shalat berjamaah di mesjid.

Golongan yang pertama, patuh dan taat dalam mengikuti arahan / himbauan MUI dengan melakukan shalat jamaah di rumah. Golongan kedua yang tidak sependapat dengan MUI dan tetap melaksanakan shalat jamaah di mesjid.

Perbedaan pendapat di kalangan umat Islam bukanlah hal baru. Kemunculan 4 imam mazhab merupakan indikator dari fenomena tersebut, sekaligus menjadi contoh yang terbaik dalam mengelola perbedaan pendapat.

Sebagai seorang Mujtahid, Imam Syafii tidak selalu sependapat dengan gurunya, Imam Malik. Begitupula dengan Imam Ahmad ibn Hambal yang terkadang berbeda pendapat dengan Gurunya sendiri, Imam Syafii.

Perbedaan pendapat bukanlah hal yang tabuh dalam Islam, apalagi dalam ranah fikih, sejarah, pendidikan dan pemikiran Islam yang merupakan ranah ijtihadi.

Lalu, yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan pendapat tersebut berujung pada fanatisme dan ekslusivisme beragama, dengan mengklaim bahwa orang yang berbeda pendapat dengannya adalah salah.

Bukankah Imam Malik sendiri pernah berkata bahwa jika ada pendapatku yang bertentangan dengan Alquran dan Hadits yang Sahih, maka ikutilah Alquran dan Hadis tersebut. Begitupula dengan imam Syafii dan Imam Ahmad yang tidak pernah mengajarkan fanatisme dan ekslusivisme dalam berfikih.

Kita mungkin masih ingat bagaimana imam Syafii yang memiliki pandangan bahwa qunut subuh hukumnya wajib, namun ketika menjadi imam di kalangan murid-murid Imam Abu Hanifah, beliau memilih untuk tidak qunut.

Itu dilakukan karena menganggap adab jauh lebih utama dari sekedar persoalan pilihan fikih yang ijtihadi. Model beragama seperti itu telah mereka pelajari dari kisah dan pengalaman para sahabat dan tabiin dalam mengelola perbedaan pendapat.

Pada masa Khalifah Usman bin Affan, beliau pernah melakukan ibadah haji bersama dengan sahabatnya, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Umar.

Pada saat berada di Mina, beliau menjadi imam shalat Duhur dan Ashar, dengan Jamak masing-masing empat rakaat. Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Umar tidak sependapat dengan Usman bin Affan karena pada masa Nabi Saw, Abu Bakar bin As-Siddik hingga Umar bin Khattab.

Mereka senantiasa menqashar shalat Duhur dan Ashar ketika sedang berada di Mina, pada musim haji. Kedua sahabat tersebut memiliki pandangan bahwa ketika berada di Mina, shalat Duhur dan Ashar mesti diqashar menjadi dua rakaat.

Abdullah bin Mas’ud kemudian ditanya mengapa beliau lantas mengikuti Usman dengan tetap melakukan shalat Duhur empat rakaat. Ibnu Mas’ud hanya menjawab bahwa ‘Al-Khilafun Sarrun’ (berbeda/menyelisihi imam itu tidak baik).

Begitupula dengan Abdullah bin Umar yang tetap ikut dengan tindakan Usman. Akan tetapi, ketika shalat sendirian, Ibnu Umar tetap memilih untuk menqashar shalatnya menjadi dua rakaat.

Kisah tersebut mempertegas bahwa seorang Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah ibnu Umar yang memiliki pengetahuan agama yang luas, tetap memilih untuk patuh dan taat dengan sikap Usman bin Affan yang berposisi sebagai Imam umat Islam.

Meskipun mereka berdua memiliki pandangan yang berbeda dengan Usman.

Hikmah dari kisah ini jika dikaitkan dengan mewabahnya covid-19 adalah dorongan untuk mematuhi arahan atau fatwa MUI yang menganjurkan untuk shalat berjamaah dilakukan di rumah, bukan di masjid. Tujuannya untuk menghindari penyebaran virus covid-19 secara massif.

Sebagai orang yang memiliki akal dan pengetahuan, saya dan anda mungkin memiliki pendapat yang berbeda dengan MUI. Tapi, menghindari perselisihan pendapat dengan iman (MUI), tentu merupakan sikap yang bijaksana.

Apalagi dengan maksud dan tujuan yang jelas, yaitu menghindari penyebaran virus covid-19.

Saat ini, wilayah kita sudah masuk zona merah dari penyebaran virus covid-19. Oleh karena itu, shalat jamaah di masjid tetap harus dilaksanakan karena hukumnya adalah fardu kifayah.

Tapi, jumlah jamaahnya harus dibatasi, sebagaimana anjuran dari MUI. Tujuannya jelas, untuk menghindari kerumunan massa yang memungkinkan menyebarnya virus dengan massif.

Menghindari penyebaran virus atau penyakit yang berbahaya hukumnya fardu ain, wajib bagi setiap orang.

Saya yakin, pilihan untuk shalat berjamaah di rumah masih mengganjal model beragama yang kita anut.

Namun, anjuran dan fatwa dari MUI juga tidak serta merta muncul begitu saja, tanpa adanya pertimbangan pemikiran yang matang, terkait keselamatan jiwa dan kesehatan segenap umat Islam.

Bagaimanapun, kita masih yakin bahwa shalat jamaah yang dilakukan dirumah memunculkan kejanggalan-kejanggalan dalam hati. Apalagi dalam bulan suci Ramadan, terasa aneh rasanya tanpa adanya shalat tarawih berjamaah di mesjid.

Di sisi lain, fenomena akan penyebaran virus covid-19 juga tidak bisa kita abaikan. Oleh karena itu, di tengah keresahan yang ada, alangkah bijaknya jika kita memposisikan MUI sebagai Imam dalam kisah Usman bin Affan.

Kita semua punya pendapat, tapi menyelisi imam adalah sikap yang kurang tepat, apalagi di tengah mewabahnya virus dan penyakit yang menular.

Intinya, menjaga diri dan orang lain dari penyakit dan bahaya adalah fardu ain, kewajiban bagi setiap umat Islam. Adapun shalat jamaah di mesjid adalah fardu kifayah, apabila sudah ada orang yang melaksanakan shalat jamaah di masjid, sudah gugur dosa jamaah dari kita. Wallahu A’lam.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Kedermawanan di Tengah Badai Covid-19

Soeharto 99 tahun yang Berlalu, Warisan Masa Lalu ke Masa Kini

Sebuah Fenomena, Dermawan Covid-19

Menelisik Susu Kurma, Bisnis Menguntungkan Dalam Ramadhan

Nanti Kita Cerita di Akhir Ramadhan

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar