Edukasi Jiwa, Berawal dalam Kebahagian dan Berakhir dalam Ketabahan

Edukasi Jiwa, Berawal dalam Kebahagian dan Berakhir dalam Ketabahan
kebahagiaan dan Ketabahan (Koleksi Shutterstock)

Dr. Hasbi Siddik
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Ketika musim hujan turun maka itulah awal musim kemarau dan ketika musim kemarau datang maka itulah awal musim hujan. Segala sesuatu berawal dan berakhir tak ada yang abadi selamanya semua ada star dan finishnya kecuali Allah Swt yang tak berawal dan tak berakhir.

Syekh Jalaluddin Rumi, mengatakan bahwa setiap diri harus menjadikan dirinya sebagai tuan rumah yang akan didatangi oleh dua tamu silih berganti, tamu itu adalah kebahagiaan dan penderitaan.

Ketika kesenangan datang bertamu dalam diri seseorang bersyukur dan memujilah kepada-Nya karena ini ujian dan segera akan berakhir digantikan dengan kesusahan.

Ketika kesusahan datang menggantikan kebahagiaan maka sambutlah sang tamu dengan ketabahan dan kesabaran, bertahanlah dalam kesabaran itu sampai si tamu tersebut pamit untuk pulang.

Baca juga:

Allah Swt sangat memahami makhluk-Nya sehingga segala sesuatu itu adalah ujian dari-Nya. Jangan merasa disayangi olehn-Nya ketika harapan dan cita terwujud dan tak perlu pula berputus asa dan merasa dijauhi oleh-Nya ketika harapan dan cita tak sesuai kenyataan.

Syekh Ibnu Ataillah as-Sakandari dalam bukunya yang populer, al-Hikam, menggambarkan bahwa Allah itu seumpama Raja yang dikelilingi oleh para abdi dalem-Nya disembah, dipuja, dipuji, disucikan, dan disebut-sebut gelar-gelar-Nya yang indah dan agung.

Mereka menyebut-nyebut keagungan dan kemuliaan sang Raja sambil bermohon dan meminta dengan penuh kerendahan dan kata-kata yang lembut.

Raja senang dengan pujian-pujian dan permohonan permohonan itu, akan tetapi tak semua harapan itu dikabulkan.

Raja mengetahui bahwa kalau permohonan hamba saya ini dikabulkan maka pasti dia akan lari dengan penuh kegembiraan dan tak lagi memuji, bermohon dan menyebut-nyebut nama-nama-Ku yang indah padahal Aku masih mau mendengar rintihan dan keluh kesahnya diawal dan diujung malam.

Kehidupan ini bagaikan dua sisi mata uang. Seberat apapun kesulitan yang melanda maka pasti akan berakhir demikian halnya sebahagia dan sesenang apapun diri seseorang maka itu tak akan lama.

Namun demikian sikap seseorang dalam menerima dan menjalani dua ujian itu, kebahagiaan dan penderitaan adalah cermin dari keimanan dan ketakwaan yang dimilikinya. Orang takwa akan menganggap keduanya sebagai karunia dari Allah Swt. Wallahu a’lam.

Komentar

Rekomendasi

Menelisik Susu Kurma, Bisnis Menguntungkan Dalam Ramadhan

Nanti Kita Cerita di Akhir Ramadhan

Abdul Rauf Abu, Mata Air Kembar Pejuang NKRI dan Dakwah

Islam dan Budaya Papua

Panti Asuhan Ini Bukan Penerima Sumbangan Justru Mendistribusikan Sumbangan

IAIN Sorong Kampus Dunia Maya

Noer Hasyim Gandi, Pejuang Pendidikan Tanah Papua

Civitas Academica, Frasa yang Sering Menjadi Perdebatan

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar