Civitas Academica, Frasa yang Sering Menjadi Perdebatan

Civitas Academica, Frasa yang Sering Menjadi Perdebatan
Bahasa Indonesia (Koleksi Sorong Terkini)

Lalu Arul
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Term civitas academica merupakan istilah yang tidak asing di kalangan para akademisi. Civitas academica merupakan terma yang diserap dari bahasa Latin.

Untuk itu, sebelum pembahasan mengenai penulisan yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, akan dibahas tentang mengenai cara-cara pengambilan bahasa asing maupun daerah menjadi bahasa Indonesia yang baku atau yang dikenal dengan istilah ‘unsur serapan’.

Unsur serapan merupakan cara atau teknis pengambilan bahasa asing dan daerah sebelum dibakukan menjadi bahasa baku bahasa Indonesia.

Terdapat tiga unsur serapan dalam bahasa Indonesia, pertama, adopsi, cara ini merupakan cara yang dipakai untuk mengambil bahasa asing secara utuh, tanpa disesuaikan dengan pengguna bahasa itu sendiri. Contoh: film, supermarket, termasuk Civitas Academica

Baca juga:

Kedua, adaptasi, merupakan cara penyerapan dengan memperhatikan dan menyesuaikan bahasa yang diserap dengan pengguna bahasa. Contoh: Computer menjadi komputer, national menjadi nasional, television menjadi televisi,

Terakhir, terjemahan, cara yang ke tiga ini merupakan cara yang paling milenial, dan banyak sekali para generasi milenial bangsa Indonesia mempraktikkan sistem ini. Cara terjemahan ini adalah cara dimana bahasa asing yang diambil kemudian diterjemahkan dengan bahasa pengguna (masyarakat bahasa).

Dalam hal ini, baik pelafalan ataupun penulisannya berbeda total dengan tulisan dan lafal aslinya. Contoh: Spare part yang artinya suku cadang.

Cara yang ketiga ini yang banyak menjadi tema diskusi di kalangan ahli bahasa, karena cenderung memiliki dampak “negatif”. Kkarena model translasi/terjemahan ini bisa mengikis kesejatian berbangsa dan bernegara anak bangsa.

Anak muda zaman sekarang, bisa dikatakan 70% senang menggunakan istilah-istilah asing dalam berkomunikasi, baik komunikasi lisan maupun tulisan, baik di forum resmi maupun di forum non resmi.

Tergerusnya nilai budaya (bahasa) lokal/nasional oleh pengaruh modernisasi tidak bisa dielakkan lagi, lebih-lebih melalui bahasa dan cara berpakaian. Pengguna bahasa (lisan/tulis) sudah banyak terpengaruh dengan budaya barat. Bisa dilihat di tempat-tempat umum.

Seperti halnya penulisan papan-papan iklan di jalan sudah hampir 65% nya menggukan bahasa asing.

Oleh karena itu, kaitannya dengan penulisan bahasa asing tersebut, perlu adanya penyadaran dini lewat workshop, kajian-kajian ilmiah, maupun tulisan yang dipublikasikan, agar masyarakat pengguna bahasa bisa memahami penggunaan bahasa yang tepat dan memilih menggunakan bahasanya sendiri.

Di kalangan akademisi sendiri atau di lingkungan kampus sering menjadi masalah masyarakat kampus, ketika sebuah terma atau istilah bahasa baru muncul tanpa dibarengi adanya pedoman yang baku.

Akibatnya, banyak di antara pengguna dengan dalih “katanya” menggunakan term tersebut tanpa dasar yang jelas. Padahal di lingkaran pendidikan bahasa dikenal KBBI dan PUEBI yang dapat dijadikan sebagai pedoman. Salah satu terma lama yang sering mengecoh pengguna bahasa adalah term “Civitas Academica”.

Kalau ditelisik lebih jauh, persoalan tentang terma ini sudah sejak lama dimunculkan, namun yang menjadi kesalahan fatal sampai sekarang masih banyak kalangan akademisi yang menggunakan terma tersebut dengan penulisan yang keliru.

Tidak hanya kampus-kampus baru, tetapi ada juga kampus lama dan besar masih menggunakan terma tersebut untuk menyebut keluarga besar kampus atau masyarakat kampus dengan penulisan yang keliru.

Sebut saja @ppsuny_official pada postingan tanggal 23 April 2020, masih menulis Civitas Academica dengan tulisan “Civitas Akademika”.

Belum lagi di IAIN Sorong, yang memang sejak satu tahun terakhir ini sering dipersoalkan. Akan tetapi, bukan berarti hal ini tidak ada pangkal penyelesaiannya. Penulis sendiri sadar kalau selama ini sering salah dalam menuliskan term tersebut.

Maka, penulis berusaha untuk mencari dan bertanya. Akhirnya, ditemukan dasar pembenaran penulisan, yakni berdasarkan KBBI dan hasil diskusi langsung dengan salah satu pengkaji dan pemerhati bahasa di Pusat Pengembangan Bahasa Jayapura.

Civitas Academica, apakah tergolong kata atau frasa, dan bahasa apa?

Civitas academica merupakan sebuah frasa. Kenapa disebut frasa? karena ia merupakan satuan linguistik yang lebih besar atau luas dari “kata”, dan memiliki sifat nonpredikatif (tanpa predikat).

Frasa civitas academica ini merupakan frasa yang diserap dari bahasa Latin. Meskipun asal term ini dari bahasa apa belum begitu jelas, namun sebagian ahli mengatakan bahwa term tersebut berasal dari bahasa Latin.

Dikarenakan terma Civitas academica merupakan bahasa Latin, maka pengunaan atau penulisannya ditulis secara utuh tanpa diubah sedikitpun hurufnya. Sebab alasannya lainnya adalah karena diserap dengan cara adopsi, artinya sudah dibakukan menjadi bahasa Indonesia (silahkan rujuk KBBI online V).

Pendapat salah satu pengkaji dan pemerhati bahasa. Seperti halnya yang disampaikan oleh salah satu pemerhati bahasa dan sastra Pusat Pengembangan Bahasa Jayapura, Ummu Fatimah Ria Lestari, bahwa “civitas academica kita serap ke dalam bahasa Indonesia melalui adopsi, frasa ini berasal dari bahasa Latin.

Umumnya, kata, frasa, atau istilah yg bersumber dari bahasa Latin tidak berubah tulisan maupun pelafalannya dalam bahasa Indonesia, meskipun sudah kita adopsi”.

Merujuk dari apa yang diterangkankan oleh Ummu Fatimah di atas dan KBBI online edisi v, menegaskan bahwa penulisan frasa academica yang benar adalah Civitas academica. Penulisan frasa ini tanpa harus dicetak miring.

Walaupun istilah tersebut dari bahasa asing, tetapi sudah dibakukan dan sudah terdapat dalam KBBI sebagai pedoman.

Sekali lagi, apa yang selama ini menjadi permasalah dalam hal penggunaan bahasa baku, setidaknya kita harus berpedoman dari KBBI dan PUEBI (pedoman umum ejaan bahasa indonesia).

Tidak boleh lagi kita hanya mengandalkan “katanya”, apalagi berdasarkan ijtima’ pribadi, karena akan berdampak terhadap keutuhan ejaan yang sudah disempurnakan.

Frasa civitas academica, setelah artikel ini dipublikasikan, maka sudah tidak ada lagi yang menulis ” Civitas Akademik, Civitas Akademika, ataupun sivitas akademika, dan mari kita menulis term di dunia pendidikan tersebut dengan penulisan yang sesuai dengan pedoman, yakni “civitas academica”.

Apa arti dari Civitas Academica?. Arti dari frasa tersebut berdasarkan KBBI online edisi v, adalah “kelompok (warga) akademik yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dengan perwakilannya yang terbentuk melalui senat masing-masing”.

Akhirnya, artikel ini menyimpulkan bahwa bahasa lisan lebih-lebih tulisan di dalam penggunaannya sebagai bahasa resmi harus berpedoman dari KBBI dan PUEBI.

Apabila belum ada pada ke dua pedoman tersebut, berarti bahasa (kata, frasa, klausa) masih berstatus bahasa asing, dan ketika digunakan dalam bahasa tulis harus dicetak miring sebagai penanda bahwa bahasa tersebut belum dibakukan ke dalam bahasa Indonesia.

Komentar

Rekomendasi

Menelisik Susu Kurma, Bisnis Menguntungkan Dalam Ramadhan

Nanti Kita Cerita di Akhir Ramadhan

Abdul Rauf Abu, Mata Air Kembar Pejuang NKRI dan Dakwah

Islam dan Budaya Papua

Panti Asuhan Ini Bukan Penerima Sumbangan Justru Mendistribusikan Sumbangan

IAIN Sorong Kampus Dunia Maya

Noer Hasyim Gandi, Pejuang Pendidikan Tanah Papua

Edukasi Jiwa, Berawal dalam Kebahagian dan Berakhir dalam Ketabahan

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar