Dampak Covid-19 Menampakkan 3 Ciri Utama Umat Islam Saat Ini

Dampak Covid-19 Menampakkan 3 Ciri Utama Umat Islam Saat Ini
Ibadah di Rumah (Koleksi Shutterstock)

Dr. Sudirman
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Masyarakat di tengah wabah korona pada bulan ramadhan memberikan kesan yang berbeda. Ada yang bertahan teguh harus salat kemasjid untuk berjamaah. Ada pula yang ragu-ragu antara ke masjid tarawih atau tidak.

Begitu pula, ada juga yang memang konsisten semua aktifitas ibadah berfokus di rumah bersama kekuarga inti.

Edaran baik dari unsur pemeritah pusat ataupun daerah, unsur MUI, unsur tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga kesehatan telah menginstruksikan agar tetap di rumah agar rantai penularan virus ini terhenti seakan akan berjalan pincang.

Anehnya, dikalangan masyarakat yang selama ini terikat hati dan kegiatannya ke mesjid justeru paling taat dengan himbauan tersebut agar tidak kemasjid untuk salat berjamaah.

Sedangkan sebaliknya, warga yang jarang salat berjamaah di masjid justeru sibuk mencari tempat salat berjamaah jumat ataupun taraweh. Ada apa dengan keislaman kita saat ini?

Dalam kajian ushul fikhi terdapat 3 ciri kategori umat islam dalam mengamalkan hukum islam.

Pertama, kategori mujtahid. Orang yang mengamalkan hukum dengan pendapat yang dihasilkannya melalui ijtihadnya sendiri tanpa mengambil ijtihad orang lain.

Kedua, kategori Muqallid, yaitu orang yang tidak dapat berijtihad. Sehingga mengikuti pendapat orang lain, namun tidak mengetahui dalil atau dasar dari pendapat yang di ikuti.

Ketiga, kategori mutabi’, yaitu orang yang mampu menghasilkan pendapat, namun berdasar pada temuan atau petunjuk ulama sebelumnya.

Katannya dengan wabah virus serta pengamalan ibadah yang dijalankan terletak pada bagaimana memposisikan diri terhadap pengambilan keputusan suatu hukum.

Dalam mengambil suatu hukum tentunya terlebih dahulu memposiaikan dimana letak kemampuan kita dalam menentukan suatu hukum, apakah mujtahid, muqallid atau ittabi?

Jangan sampai seseorang berijtihad padahal belum menjadi kapasitasnya sebagai mujtahid pastilah keputusannya akan berdampak fatal.

Pilihannya adalah muqallid atau muttabi, namun penulis mengusulkan bahwa sebaiknya ke level muttabi agar tidak sekedar ikut ikutan dalam bearagama.

Semisal orang qunut ikut qunut, orang tidak jaharkan basmalah atau menjaharkan juga lansung ikut tanpa tahu dasarnya.

Sama halnya dalam pengambilan keputusan saat ini di tengah wabah corona. Jangan sampai gara-gara hanya di lingkungan semangat berjamaah sehingga juga ikut ikutan tampa tahu bahwa apa hukum salat jamaah saat wabah.

Begitu juga harus mengetahui kekuatan hujjah edaran MUI dan pemerintah terkait adanya pemidahan aktifitas ibadah saat masih pandemi Corona.

Beragama bukan hanya sekedar iman atau aqidah kuat namun harus dinikuti syariat dan ihsan. Aqidah sangat penting namun syariat juga sangat penting karena islamterdiri dari 3 komponen aqidah, syariat, akhlaq.

Pilihannya, Agama Islam menganjurkan untuk taat pada Allah, taat kepada Rasul dan taat kepada Pemimpin. Sekarang para Ulama dan pemimpin dengan kapasitasnya telah berijtihad untuk melakukan opsi agar ibadah di rumah.

Secara otomatis segala tanggung jawab yang lahir baik di dunia maupun di akhirat dan pemerintah dan para ulama yang telah mengeluarkan fatwa yang bertanggung jawab.

Pertanyaanya mengapa kita masih ingin mengambil resiko untuk memberanikan diri menjalankan ajaran agama yang mengancam kesekamat jiwa. Bukankan Allah menginginkan kemudahan bukan kesulitan?, (Allahu ‘Alam….)

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Menyambut MTQ Tingkat Provinsi Secara Virtual, LPTQ Provinsi Papua Barat Gelar Silaturahmi Dengan Se-Papua Barat

PP Muhammadiyah Lantik BPH Universitas Muhammadiyah Sorong, Diantaranya Syaiful Maliki Anggota DPR Papua Barat

Mengenang Sembilan Tahun Wafatnya Allahuyarham Prof. Saifuddin, Ketua STAIN Sorong Pertama

Yayasan Bina Insan Mulia Peradaban, Laksanakan Kembali Ngopi

La Ode Samsir, Ini Tanggung Jawab Moril Saya Ketika Bagikan 665 Paket Bantuan Banjir

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar