Potensi Pergeseran Budaya pada Masa Covid-19, Melihat dari Sisi Budaya

Potensi Pergeseran Budaya pada Masa Covid-19, Melihat dari Sisi Budaya
Lalu Nasrulloh (Koleksi Sorong Terkini)

Lalu Nasrulloh
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Virus corona menjadi musuh yang menyeramkan bagi masyarakat dan negara. Dampak yang ditimbulkan oleh wabah ini begitu dahsyat. Sektor pendidikan, ekonomi, sampai kepada sosial budaya masyarakat dibuat pincang.

Tetapi, pemerintah dalam hal ini sebagai penopang kebijakan, dengan cepat merespon sumua keadaan yang muncul. Tidak tanggung-tanggung pemerintah pusat di bawah komando pak Jokowi, langsung bergerak merefocussing anggaran semua kementerian.

Ini dilakukan guna sebagai langkah serius pemerintah dalam menanggulangi penyebaran virus yang pertama kali muncul di negara Tiongkok ini. Keadaan tersebut sudah menjadi tanggung jawab pemerintah dalam merespon setiap perubahan yang melanda negara.

Perubahan kondisi yang dialami oleh bangsa, tentu akan berefek pula terhadap perilaku masyarakat.

Baca juga:

Berbagai macam perilaku masyarakat yang ditimbulkan oleh adanya perubahan keadaan bangsa, menjadi salah satu bentuk respon terhadap perubahan tersebut.

Sebut saja, sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat penyederhanaan budaya secara besar-besaran dan cepat (revolusi), tetapi adanya juga penyederhanaannya secara lambat (evolusi).

Bangsa Indonesia dikenal dengan keanekaragaman budaya. Dari Sabang sampai Merauke ribuan adat dan tradisi mampu diciptakan oleh masyarakat. Adat dan tradisi tersebut sudah mendarah dan daging dengan masyarakat (pelaku budaya).

Bahkan, banyak daerah sudah mensejajarkan budaya dengan agama, sehingga ketika dibenturkan ke dua hal tersebut tidak jarang yang menimbulkan perselisihan berkepanjangan. Sebut saja, tradisi merariq, suku Sasak, Lombok.

Tradisi Merariq Suku Sasak, Lombok

Merariq merupakan tradisi yang berkembang di tanah Sasak, semenjak nenek moyang terdahulu. Merariq adalah istilah bagi pasangan pemuda dan pemudi yang sudah sah dalam ikatan pernikahan secara agama dan negara.

Namun, dalam proses merarik tersebut terdapat fase di mana sang calon pengantin laki-laki harus mengambil secara diam-diam calon pengantin perempuan (maling).

Setelah itu, ada fase inkubasi selama kurang lebih 2-3 hari, baru kemudian pihak laki-laki mengutus perwakilan (kepala wilayah/kyai) untuk menyampaikan pemberitahuan kepada pihak keluarga calon perempuan, bahwa sanak saudaranya sudah diambil oleh warganya (mesejati).

Setelah itu, dilanjutkan dengan selabar berselang 1-2 hari setelah mesejati. Dalam proses selabar ini akan dilakukan negosiasi tentang uang pisuke (bahasa Bugis disebut panai).

Selama proses negosiasi tersebut ada juga kasus yang sampai memakan waktu 1-2 minggu, baru kemudian pihak calon laki-laki mendapatkan persetujuan untuk melangsungkan ijab kabul dari pihak wali.

Apabila dilihat dari segi agama, tradisi tersebut cenderung bertentangan, kenapa? Karena agama menganjurkan untuk jangan mempersulit proses pernikahan seseorang, apalagi hanya gara-gara uang pisuke yang tidak mampu dipenuhi oleh pihak laki-laki.

Namun, di sini penulis tidak membahas proses/fase pernikahan adat Sasak tersebut dari segi agama dengan detil, karena ini bukan ranah penulis untuk membahasnya.

Pasca proses ijab kabul ke dua mempelai, terdapat prosesi begawe dan nyongkolan. Begawai (pesta) dan nyongkolan (pergi silaturahim ke rumah orang tua pengantin perempuan secara ramai-ramai) dalam masa wabah virus corona ini secara otomatis tidak bisa dilakukan.

Artinya, dulu sebelum corona menyapa bumi nusantara, masyarakat Sasak sangat bahagia apabila ada warga tentangganya menikah, karena bisa pastikan selama pra, proses, sampai pasca ijab kabul, akan tercipta kondisi meriah dan lingkungan selalu ramai.

Oleh karena itu, dalam kasusu tersebut terjadi pergeseran budaya meskipun hal ini tidak dikendaki. Julian Stewart mengatakan, “sebuah kebudayaan bisa diubah oleh lingkungan dan lingkungan bisa diubah oleh budaya”. Dalam konteks ini, keadaan lingkunganlah yang memaksa pergeseran budaya terjadi.

Carut-marutnya kondisi lingkungan masyarakat diakibatkan oleh wabah corona ini, mampu memberikan pelajaran kepada masyarakat budaya bahwa melakukan ibadah itu tidak mesti dengan ramai-ramai atau pesta.

Komentar

Rekomendasi

Akhir Ramadhan dalam Perjuangan dan Solidaritas, Melewati Wabah Covid-19

Patologi Sosial Dalam Pandemi

Bahaya Lain Covid-19

Covid-19, Pandangan dari Kaca Mata Antropologi

Virus Corona Pasti Berlalu

Stres Masyarakat Dalam menghadapi Covid-19

Covid-19 dalam Musibah, Ujian atau Rahmat, Pandangan Alquran

Covid-19, Uraian Terma Alquran tentang al Bala

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar