Puasa Bicara, Belajar Mengkualitaskan Pembicaraan dari Tradisi Orang-orang Awal

Puasa Bicara, Belajar Mengkualitaskan Pembicaraan dari Tradisi Orang-orang Awal
Dr. Hasbi Siddik (Koleksi Sorong Terkini)

Hasbi Siddik
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Salah satu bentuk kekacauan dan kepusingan zaman sekarang ini adalah ketidakmampuan manusia-manusia moderen dalam mengendalikan dan menahan pembicaraan-pembicaraannya.

Pembicaraannya cenderung mengarah kepada materi yang tak berdasar, penuh kebohongan, fitnah, caci maki, dan dipenuhi kebencian.

Mereka tidak memilih dan memilah pembicaraan yang harus diucapkannya, bahkan tak berpikir panjang konsekuensi-konsekuensi negatif yang akan ditimbulkan bagi diri dan lingkungannya.

Imam al-Ghazali pernah berpesan bahwa lebih baik diam dari pada berbicara memperlihatkan kebodohan dan kerendahan. Sama halnya dengan apa yang dihikmahkan oleh Lukmanul Hakim bahwa, pembicaraan-pembicaraan seseorang adalah lambang dan simbol dari kualitas dan kesucian dirinya.

Baca juga:

Ketika Maryam, perempuan suci dalam puncak derita ketika akan melahirkan dan rasa sakit yang tak tertahan dari caci maki dan gunjingan orang-orang sekitar akibat kehamilannya yang tak biasa.

Maka, dia hanya diperintah untuk tidak berbicara sepatah katapun kepada siapapun, dia harus menahan diri dan ucapannya terhadap seluruh caci maki yang ditujukan kepadanya.

Sehingga akibat puasa bicaranya itulah maka nabi Isa as yang baru saja lahir dan masih bayi itu berbicara. Sang bayi, menjawab seluruh seluruh pertanyaan, hinaan dan prasangka buruk dari kaumnya yang menuduh ibunya secara serampangan, rendahan dan tanpa alasan dan pengetahuan yang dimilikinya.

Demikian halnya Nabi Zakaria as, ketika diusia tuanya dan isterinyapun seorang yang mandul tapi masih belum juga dikaruniai seorang anak.

Maka, Zakaria as melakukan puasa bicara selama tiga hari sambil bertasbih dengan memuji Tuhannya dan pembicaraannya hanya dilakukan melalui bahasa simbol dan isyarat.

Betapa hebat efek menahan pembicaraan di sisi Tuhan dan pada orang yang melakukan puasa bicara itu sendiri.

Orang yang senantiasa mengontrol dan menahan pembicaraannya yang tak penting maka selain memperoleh kemuliaan maka juga akan meningkatkan aura dan wibawanya pada orang-orang sekitar dan yang berinteraksi dengannya.

Kalau kita tak mampu diam atau menahan pembicaraan maka minimal berbicaralah hanya pada hal-hal yang positif dan baik.

Karena berbicara positif atau yang baik-baik seperti pohon yang akarnya kuat mencekram kedalam tanah dengan pokok yang menjulang tinggi dengan cabang-cabangnya yang rimbung di angkasa.

Hal tersebut, akan memberikan kesejukan dan kenyamanan bagi yang berteduh dibawahnya (demikian informasi kitab suci Alquran).

Berkata baik dan menyejukkan akan menimbulkan bekas yang dalam kedalam lubuk hati yang mendengarnya yang membuat orang itu bahagia yang tersirat pada mimik, muka dan apresiasinya.

Bahkan dalam satu hadis Nabi saw.

“Siapa di dalam bulan suci ini tak mampu meninggalkan pembicaraan dan perbuatan sia-sia maka orang itu sama saja di sisi Allah Swt apakah dia mau makan atau tidak dalam bulan suci ini.” Berarti puasanya sia-sia.

Selain itu, banyak ritual-ritual keagamaan yang menuntut untuk menahan pembicaraan yang tak berkualitas ketika melaksanakan ibadah tersebut seperti ibadah haji.

Masih menurut Alquran bahwa orang yang akan dan sedang melakukan ritual haji maka dilarang baginya untuk berbicara kotor yang dapat menimbulkan syahwat serta menjauhi berdebat atau beradu mulut.

Demikan halnya orang yang bersadaqah dilarang baginya untuk tidak merendahkan serta mencaci orang yang diberinya sadaqah atau dilarang untuk menyebut-nyebutnya.

Bahkan Alquran lebih jauh menjelaskan bahwa, pembicaraan yang baik jauh lebih baik dari pada pemberian yang dikututi dengan cacian.

Kedamaian dan keharmonisan kehidupan zaman sekarang ini hanya akan tercipta kalau masing-masing individu mau belajar dari tradis-tradisi orang awal dalam mengontrol dan menahan pembicaraan pembicaraan mereka.

Tidak semua yang diketahui dan dirasa harus dikomentari dan dijelaskan.

Tidak juga yang dilihat oleh indera dan dicetuskan oleh hati harus didefinisikan. Orang yang banyak bicara dan cerewet ketika ada masalah berarti dia belum belajar dan memahami sementara orang yang banyak diam ketika ada masalah maka orang itu telah belajar.

Bukankah kebersamaan Musa dan Khidir adalah proses pembelajaran yang harus terus menerus ditayangkan pada madrasah-madrasah alam.

Musa banyak bicara dan protes terhadap sikap Khidir karena dia belum mampu sampai kepada tahapan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki oleh Khidir.

Akhirnya semakin berisi bulir-bulir padi maka semakin tunduk dan merendah. Wallahua’lam.

Komentar

Rekomendasi

Akhir Ramadhan dalam Perjuangan dan Solidaritas, Melewati Wabah Covid-19

Patologi Sosial Dalam Pandemi

Bahaya Lain Covid-19

Covid-19, Pandangan dari Kaca Mata Antropologi

Virus Corona Pasti Berlalu

Stres Masyarakat Dalam menghadapi Covid-19

Covid-19 dalam Musibah, Ujian atau Rahmat, Pandangan Alquran

Covid-19, Uraian Terma Alquran tentang al Bala

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar