Stres Masyarakat Dalam menghadapi Covid-19

Stres Masyarakat dalam menghadapi Covid-19
Pencegahan Covid-19 (Koleksi www,shutterstock.com)

Evie Syalviana, M.Psi., Psikolog
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020 telah mengumumkan bahwa Covid-19 sebagai pandemi global.

Indonesia pun tak luput dari wabah yang disebabkan oleh virus corona tersebut.

Hingga 10 Mei 2020, pukul 16.00 WIB, jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai 14.032 orang. Sebanyak 2.698 telah sembuh dan 973 lainnya meninggal dunia.

Peningkatan jumlah pasien terdampak yang semakin pesat tiap harinya tentu menjadi PR besar bagi pemerintah dan masyarakat sendiri.

Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam dua bulan terakhir ini, namun tidak sedikit masyarakat yang cukup mengindahkan utamanya bagi masyarakat yang tergolong pencari nafkah Harian.

Pada dasarnya gejala yang ditimbulkan virus ini hampir sama dengan gejala flu pada umumnya, hanya saja penularanya sangat cepat dari satu orang ke orang lain melalui percikan (droplet) dari saluran pernapasan yang sering dihasilkan saat batuk atau bersin.

Waktu dari paparan virus hingga timbulnya gejala klinis berkisar antara 1–14 hari dengan rata-rata 5 hari, walau pada beberapa ahli menyebutkan bahwa gejala yang ditimbulkan setiap orang bisa berbeda bahwa belakangan muncul orang-orang yang didiagnosa positif tanpa menunjukkan gejala (OTG).

Besarnya dampak yang ditimpulkan sebagai efek dari pandemic corona ini, memunculkan banyak gejala kecemasan dalam masyarakat.

Tidak sedikit masyarakat secara pribadi merasakan ketakutan akan lingkungan sekitar.

Selalu dibayangi pikiran negative akan terjangkit virus tersebut sehingga berprilaku obsesif kompulsif.

Tidak sedikit pula yang bahkan merasa cemas memikirkan pandemic ini hingga memunculkan gejala stress yang berlebih.

Para ahli psikologi menekankan bahwa stress termasuk dalam gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan yang muncul dari kegagalan seseorang dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya.

Tekanan itu bisa berasal dari diri atau luar diri orang tersebut.

Kita menyadari bahwa saat ini dampak dari pandemi ini tidak hanya merugikan kalangan ekonomi kelas menengah kebawah namun semua kalangan turut merasakan sehingga sejala stress juga banyak di rasakan oleh kalangan ekonomi menengah atas.

Pada dasanya tidak dampak stress ada yang baik dan ada pula yang buruh.

Stress yang baik bias berdampak memotivasi kita untuk menghindarkan diri dari virus covid 19, namun adapula stress buruk yang justru membuat individu tidak bersemangat, lebih mudah emosi menarik diri dan takut berhadapan dengan orang sekitanya.

Tentu stress yang demikian perlu mendapatkan perhatian lebih.

Ada beberapa potensi stress yang banyak ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia yaitu mengurung diri dan tidak berani bersosialisasi dengan dunia luar walaupun sudah memakai alat pelindung diri lengkap.

Begitu pula, perubahan pola tidur menjadi sulit tidur terutama bagi yang terbiasa beraktifitas di luar rumah, pola makan menjadi tidak beraturan bahkan ada yang sulit makan, memburuknya masalah kesehatan kronis karena akses ke rumah sakit menjadi terbatas.

Selanjutnya, memburuknya masalah kesehatan mental, cemas berkepanjangan dan mengarah pada depresi serta berbagai gejala stress lainya karena perubahan pola aktifitas, baik aktifitas pekerjaan, sekolah hingga aktifitas spiritual.

Masalah perubahan ini tentu tidak mudah bagi sebagian orang dalam menyesuaikan diri, oleh karena itu perlu ada perhatian secara psikologis bagi keberlangsungan kesehatan mental masyarakat kita.

Perlunya penguatan dari keluarga yang memiliki waktu bersama lebih banyak selama #dirumahaja, serta penguatan spiritual utamanya peningkatan ibadah di bulan Ramdhan ini.

Seseorang yang sudah mulai menunjukkan beberapa gejala stress di sarankan mulai membatasi informasi atau berita yang tidak perlu terkait perkembangan covid 19 ini dan jika gejala berlanjut segera hubungi tenaga psikologi professional di wilayah masing-masing.

Agar penurunan kesehatan mental atau gejala stress yang dialami tidak turut menurunkan sistem imun dalam tubuh kita.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Akhir Ramadhan dalam Perjuangan dan Solidaritas, Melewati Wabah Covid-19

Patologi Sosial Dalam Pandemi

Bahaya Lain Covid-19

Covid-19, Pandangan dari Kaca Mata Antropologi

Virus Corona Pasti Berlalu

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar