Bahaya Lain Covid-19

Bahaya Lain Covid-19
Covod-19 (www.shutterstock.com)

Dr. Sudirman
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Hampir seluruh masyarakat di dunia di khawatirkan oleh virus Covid-19. Penyebarannya yang cepat serta mengakibatkan kematian memberikan kecemasan berlebih terhadap virus tersebut.

Tak terkecuali di Indonesia. Sam pai saat ini tertanggal 17 Mei 2020 tercatat 17.514 kasus, sembuh 4129, meninggal 1.148 jumlah yang sangat fantastis.

Pemerintah telah gencar melakukan pencegahan dengan menerapkan PSBB di beberapa wilayah, bahkan bandara telah ditutup sejak 24 april hingga 1 juni mendatang.

Jika melihat data dari hari keharinya secara keseluruhan semakin bertambah dan belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir penyebaran virus tersebut.

Baca juga:

Sekarang muncul opini baru bahwa physical distancing dan sosial discancing harus di konritkan dengan physical saving. Hal ini dianggap lebih mujarab diharapkan adanya kesadaran dari diri asing masing untuk menjaga diri dan orang lain.

Jika melihat fenomena yang ada, memang masih banyak yang apatis terhadap anjuran pencegahan, seperti keluar tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, dan berkerumun.

Pada akhir Ramadan ini, justru kebutuhan yang mengharuskan keluar rumah semakin bertambah, dan potensi berkeruman tidak bias terhindarkan.

Terbukanya pusat-pusat pembelanjaan, Mall, serta tempat pembelanjaan lainnya, diserbu untuk mendapatkanpakain yang baru untuk idul fitri meskipun salat Idul Fitri tidak diselenggarakan seramai tahun sebeumnya.

Memang pada prinsipnya, bukan virus yang harus di takuti saat ini. Melainkan yang paling ditakuti atau menghawatirkan adalah; pertama: kehilangan kesadaran , kurang peka terhadap lingkungan sehingga yang terjadi adalah egois.

Apatis terhadap masyarakat yang lainnya, kurang sadar bahwa ketika tidak bersatu untuk menghentika virus covid-19 ini maka akan membutuhkan waktu yang sangat panjang dalam pananganannya serta dampaknya.

Sehingga yang terjadi adalah ketidak stabilan sosial dan ekonomi berkepanjangan, yang susah akan semakin susah.

Kedua, bagian yang harus dikhawatirkan adalah bergesernya keimanan, banya musibah yang diturunkan leh Allah namun adakah manusia dapat memahami apa hikmah dibalik musibah tersebut.

Tak sedikit masyarakat enganggap hal yang terjadi sekarang biasa-biasa saja karena masih belum terkena dampak langsung dan masih bisa mengharap pada tenaga medis jika terkena virusnya.

Namun apakah masyarakayt pernah merenungi dan bertaubat mangapa virus ini ditakdirkan dalam kehidupannya?.

Jika ini belum sampai pada titik perenungan kepada semua manusia khususnya yang beriman maka virus ini bukanlah meomentum dalam mendekatkan diri kepada tuhannya.

Seharusnya manusia beriman menjadikan setiap sesuatu apalagi musibah untuk menjadikan dirinya bermuhasabah dan bertaubat didepan Tuhannya.

Covid-19 bukanlah apa apa jika berlalu begitu saja tampa dapat mengambil hikmah dan muhabah bagi setiap diri pribadi.

Komentar

Rekomendasi

Akhir Ramadhan dalam Perjuangan dan Solidaritas, Melewati Wabah Covid-19

Patologi Sosial Dalam Pandemi

Covid-19, Pandangan dari Kaca Mata Antropologi

Virus Corona Pasti Berlalu

Stres Masyarakat Dalam menghadapi Covid-19

Covid-19 dalam Musibah, Ujian atau Rahmat, Pandangan Alquran

Covid-19, Uraian Terma Alquran tentang al Bala

Ramadhan dan Tawakkal

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar