Patologi Sosial Dalam Pandemi

Patologi Sosial Dalam Pandemi
Patologi Sosial Dalam Pandemi (www.shutterstock)

Ashari, M. Psi.
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Terkini.id, Sorong – Dunia telah digemparkan dengan kehadiran pandemi Covid-19, sejak Desember 2019 silam penyebaran virus ini telah merambah ke ratusan negara.

Covid-19 hingga kini menjadi trending topic yang tidak habis untuk dibahas, sampai saat ini di 226 negara sudah terkonfirmasi 4jt kasus, sementara di indonesia sendiri mencapai 18.496 (GTPPCovid19/19-05-2020).

Alih alih mengikuti jejak China yang mendeklarasikan diri bebas dari kasus covid19 beberapa waktu lalu, Indonesia setiap harinya mengalami pertambahan signifikan kasus skala nasional.

Berbagai upaya telah pemerintah laksanakan sebagaimana negara-negara lain yang terlebih dahulu terpapar kasus pandemi ini, Pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Lockdown, dan work from Home (WFH) telah berjalan beberapa waktu belakangan, akan tetapi masih banyak pelanggaran yang terjadi terkait aturan baru pemerintah ini.

Masih banyaknya masyarakat yang membandel untuk tidak mengikuti aturan untuk tetap dirumah, semakin memperbesar potensi penularan Covid19, sebagaimana kita mengetahui penularan virus ini sangat mudah hanya dengan bersin atau batuk ( droplet ).

Kita dapat membayangkan apabila satu orang positif covid19 batuk di antara kerumunan maka dalam waktu 14 hari bisa jadi kerumunan tersebut juga positif.

Hal ini tentu menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat, mereka yang pekerjaannya menuntut kontak sosial dengan orang lain sangat dirugikan, misalnya pedagang, kurir, ojek online dan lain sebagainya.

Kecemasan mereka selain dikarenakan potensi penularan virus yang tinggi mereka juga cemas kehilangan mata pencaharian, karena sudah tidak ada lagi yang menggunakan jasa mereka.

Di satu sisi ketika mereka tinggal di daerah yang telah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), apabila ingin tetap bekerja baik sebagai pedagang, ojek online dsb, mereka dapat ditegur karena telah melanggar aturan, dilema seperti ini telah umum kita saksikan di media sosial maupun di beritakan secara nasional.

Kartini kartono mengemukakan semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas, kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin dan hukum formal adalah Patologi sosial dengan kata lain penyakit yang timbul akibat faktor-faktor sosial.

Selain masih terdapatnya masyarakat yang tidak mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap dirumah, mereka yang berkeliaran di luar rumah beberpa terlihat tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, penggunaan masker telah disyaratkan wajib oleh World Health Organization (WHO).

Dapat kita lihat pergeseran budaya yang dianggap normal akhir-akhir ini seperti diluar ruangan semua wajib menggunakan masker, bagi mereka yang tidak mematuhi hal tersebut maka dianggap tidak normal atau melanggar stabilitas lokal dan ketertiban umum.

Aturan baru pemerintah ini, telah merombak adat istiadat yang berlaku di Masing-masing daerah, pandemi covid19 telah menggerogoti aspek kebudayaan di setiap daerah di Indonesia, semua serba disederhanakan mulai dari bekeja, belajar hingga pernikahan.

Pandemi covid19 telah melahirkan embrio Patologi Sosial.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Akhir Ramadhan dalam Perjuangan dan Solidaritas, Melewati Wabah Covid-19

Bahaya Lain Covid-19

Covid-19, Pandangan dari Kaca Mata Antropologi

Virus Corona Pasti Berlalu

Stres Masyarakat Dalam menghadapi Covid-19

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar