Soeharto 99 tahun yang Berlalu, Warisan Masa Lalu ke Masa Kini

Soeharto 99 tahun yang Berlalu, Warisan Masa Lalu ke Masa Kini
Panggung Terakhir Soeharto sebagai Presiden RI (Koleksi Reuters)

Soeharto 99 tahun yang Berlalu, Warisan Masa Lalu ke Masa Kini

Terkini.id, Sorong – Warga Indonesia yang lahir setelah 1998, tak lagi akrab dengan nama ini. Bahkan bisajadi tak mengenal nama ini sekali.

99 tahun lalu, di Kemusuk. Desa yang menjadi tempat kelahirannya. Walau begitu, perjalanan karirnya bisa mengantar menjadi seorang presiden.

Tempat kelahiran tak pernah menjadi soal, bagi yang memang memiliki keberuntungan. Namun pada kesempatannya, tanah kelahiran menautkan seorang pemimpin pada wawasannya.

Desalah yang menjadi tumpuan pembangunan Soeharto. Kata yang menjadi mantra harian. Bahkan didaulat sebagai Bapak Pembangunan.

Dengan desa pula, Soeharto fasih semasa acara-acara kelompencapir. Dimana kunjungan Soeharto ke desa selalu ada acara khusus dialog dengan petani, dan nelayan.

Ditayangkan TVRI, dan menjadi satu-satunya televisi. Dengan teknologi saat itu yang masih hitam-putih.

Televisi swasta pertama kali mengudara, itupun dengan parabola mulai 1990. RCTI yang mendapat izin, tak jauh-jauh dari wilayah Cendana.

Bahkan menguasai sampai urusan teknis, dan juga selalu diagendakan untuk penanaman padi, ataupun panen raya. Dimana politisi sekarang, tidak lagi menyukai seremonial itu.

***

21 tahun hidup dengan masa Soeharto. Mulai dari pendidikan dasar sampai tahun ketiga Pendidikan di bangku kuliah, menjadikan pandangan tentang pemimpin tertinggi hanya melihat pada Soeharto saja.

Masa-masa mulai sekolah menengah sampai kuliah, dinikmati dalam semua hal perlu izin.

Tidak saja dalam penyelenggaraan pesantren kilat semata, bahkan sampai urusan spandukpun harus dikkordinasikan dengan pembantu rektor.

Terkecuali ketika satu pemilu sebelum lengsernya, ada program khusus pesantren kilat yang dilaksanakan departemen pendidikan.

Pelaksanaanya, tak memerlukan izin sampai ke tingkat gubernur, sebagaimana sebelumnya.

Termasuk urusan isra mikraj, yang harus dikoordinasikan sampai ke tingkat kecamatan. Ini mungkin semata karena sekumpulan mahasiswa yang melaksanakannya.

***

Masa kini, terkait dengan perjalanan 32 tahun Soeharto. Tidak saja warisan yang dilihat dari mata.

Golkar, menjadi bagian dari prakarsa sistem politik yang dibentuknya. Dalam pikiran yang terbatas ketika itu, dalam kontestasi pemilu, “kenapa ada institusi bukan partai yang bertarung?”.

Dalam kesempatan ketika duduk di sekolah menengah, dimarahi orang tua karena memegang alat peraga kampanye selain Golkar.

Ada pesona selain Soeharto, itu tampak dari Buya Ismail Hasan Metareum. Setelah piknik semakin jauh, “itu semata-mata urusan politik belaka”.

Tak banyak yang tersisa dari Orde Baru, ketika proses reformasi terjadi. Keasyikan setelah tidak boleh bersuara memiliki peluang tersendiri.

UUD-pun turut mengalami amandemen. Kini, bagi yang lahir setelah 1998, adakah yang masih mengenal Soeharto?.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Kedermawanan di Tengah Badai Covid-19

Sebuah Fenomena, Dermawan Covid-19

Menelisik Susu Kurma, Bisnis Menguntungkan Dalam Ramadhan

Nanti Kita Cerita di Akhir Ramadhan

Abdul Rauf Abu, Mata Air Kembar Pejuang NKRI dan Dakwah

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar