3 Pilar Geliat Keislaman di Distrik Mega Kabupaten Sorong Papua Barat

Dr. Hamzah, M.Ag. (Rektor IAIN Sorong, Papua Barat)

Terkini.id, Sorong – Terdapat dua nama Mega di Indonesia secara umum dan Papua Barat secara khusus. Satu nama berkaitan dengan nama sebuah supermarket yang berada di Kota Sorong dan satunya lagi yang berkaitan dengan letak geografis suatu daerah yaitu Distrik Mega.

Distrik Mega merupakan salah satu distrik di Kabupaten Sorong yang menaungi sebelas kampung.

Baca Juga: Selamat! Rektor IAIN Sorong Terima 2 Penghargaan dari KPPN Sorong

Perjalanan dari Kota Sorong ke Distrik Mega Kabupaten Sorong ditempuh dengan jarak lebih kurang 106 km atau sekitar 3 jam dengan menggunakan mobil Fortuner atau sejenisnya.

Sepanjang perjalanan, terlihat deretan hutan. Meskipun kondisi jalan sebagian besar telah beraspal, namun dikarenakan medan perjalanan itu menyusuri tepi jurang yang terjal serta mendaki maka harus tetap “mawas diri” tapi pada intinya mengasyikkan.

Baca Juga: Optimalisasi Perkuliahan Semester Genap, Fakultas Syariah dan Dakwah IAIN Sorong...

Tepatnya hari Kamis, 11 Maret 2021/27 Rajab 1442 H lalu. Saya bersama rombongan tim pengabdian masyarakat IAIN Sorong dalam rangka menjalin kemitraan dengan para pengurus Gabungan Majelis Taklim (GMT) Kabupaten Sorong serta memenuhi undangan menjadi narasumber pada peringatan Isra’ wal Mi’raj Nabi Muhammad saw.

Kegiatan peringatan Isra’ wal Mi’raj tersebut dirangkaikan pula dengan pengukuhan para Pengurus Gabungan Majelis Taklim (GMT) Distrik Mega, Kabupaten Sorong.

Pembentukan dan pengukuhan pengurus Gabungan Majelis Taklim (GMT) di Distrik Mega ini adalah pertama kali dibentuk oleh pengurus Gabungan Majelis Taklim Kabupaten Sorong di bawah kepemimpinan Hj. Sarbanon Rombaya Lolango, S.Sos. yang juga merupakan alumni IAIN Sorong.

Baca Juga: Optimalisasi Perkuliahan Semester Genap, Fakultas Syariah dan Dakwah IAIN Sorong...

Saya melihat bahwa geliat keagamaan Islam di Distrik Mega ini setidaknya terlihat pada tiga pilar utama yaitu: Majelis Taklim, Masjid dan Makam/Maqbarah Penyiar Islam.

Ketiga pilar inilah kemudian menjadi sesuatu yang menarik dan dibutuhkan kajian-kajian lanjutan bagi para akademisi juga bagi  masyarakat muslim Mega, Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat. 

Majelis Taklim di Distrik Mega, hadir sebagai mitra Pemerintah Kabupaten Sorong di bidang keagamaan pada tingkat distrik serta menjadi wadah pendorong kemajuan bagi kalangan perempuan baik dari segi pemberdayaan, penguatan keislaman, penyampaian informasi serta kemajuan-kemajuan lainnya.

Masjid, berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan masyarakat Mega baik hal yang berkaitan dengan peribadatan maupun kegiatan sosial keagamaan lainnya di pelosok Kabupaten Sorong. Masyarakat Muslim Mega sendiri setidaknya telah memiliki 2 sarana ibadah yaitu satu masjid Miftahul Jannah dan satu mushalla An-Nur. 

Makam/Maqbarah Penyiar Islam, berfugsi sebagai bukti historis dari adanya penyiaran dan penyebaran agama Islam pada masa lalu di Papua Barat yang dilakukan oleh para pendakwah maupun para saudagar luar Papua.

Letak makam penyiar Islam di Distrik Mega ini terletak sekitar 7 meter dari arah Barat Mushalla An-Nur.

Salah seorang tokoh masyarakat, Muhammad Ilyas mengatakan bahwa  makam yang dimaksud tersebut berada di pantai.

Ketika air pasang, makam tersebut tidak terlihat oleh kedua mata namun ketika air mulai surut baru makam tersebut mulai nampak. 

Penghuni kuburan/maqbarah yang ada di Distrik Mega, Kabupaten Sorong adalah Syeikh Jauhary. *** (Bersambung)

Bagikan