Ramadhan Bulan Kebersamaan, Sesudahnya Dimana Bekasnya?

Ramadhan Bulan Kebersamaan, Sesudahnya Dimana Bekasnya?
Ramadhan Bulan Kebersamaan, Sesudahnya Dimana Bekasnya?

Terkini.id, Sorong – Saat Ramadhan datang menyapa, semuanya bersyukur dengan bergembira. Begitu pula dalam pelbagai aspek kehidupan semuanya dilaksanakan dengan gotong royong.

Mulai dari sahur, dimana dibangunkan adanya kelompok yang membangunkan. Anak-anak muda yang khusus begadang untuk membangunkan sahur.

Walaubagaimanapun sesekali pula ada yang tertidur, bangun di masa adzan shubuh berkumandang. Ketika itu terjadi, bagi warga Muhammadiyah tak masalah. Masih tersisas delapan menit waktu shubuh. Dimana Muhammadiyah mengoreksi shalat shubuh yang terlalu pagi.

Sementara yang tetap mengikuti waktu yang sudah ada, puasa akan dihadapi tanpa sahur. Bukan saja karena sola sunnah untuk bersahur, tetapi ketiadaan asupan untuk menghadapi puasa sepanjang hari akan berbeda berbanding jikalau sudah disiapkan dengan sahur.

Ramadhan di Indonesia, merupakan gambaran komunal. Hanya saja, satu pertanyaan. Seusai idul fithri, dimana kehidupan yang berjamaah itu?

Menarik untuk Anda:

Sebelum pandemi dimana shalat ied dilaksanakan dengan jumlah yang besar terutama ketika dilaksanakan di lapangan, sampah koran yang dibawa jamaah bertebaran. Akhirnya, tukang sampah yang kebagian tugas membersihkan.

Belum lagi, instrumen zakat sudah ada. baik itu zakat fithrah maupun zakat mal. Hanya saja distribusi, dan juga dijadikan sebagai dana komsumsi sehingga tidak menjadi intrumen pemberdayaan.

Badan amil zakat perlu memikirkan adanya pendampingan. Sehingga zakat tidak berakhir sampai pada komsumsi semata. Melainkan dapat menjadi daya dukung bagi pengentasan kemiskinan.

Lagi-lagi, masih pertanyaan yang sama. Adakah ramadhan yang dilalui dengan kekompakan itu dapat ditransformasikan menjadi gotong royong tidak saja di masa Ramadhan saja. Tetapi melampaui masa sebulan. Bahkan menjadi pola hidup untuk setiap lini kehidupan. Termasuk dalam urusan berbangsa.

Ini pertanyaan, bolehjadi utopis. Namun juga dapat menjadi pertanyaan yang serius. Dimana masalah-masalah yang wujud dalam warna kehidupan di Indonesia, kerap kali tidak dibarengi dengan kesetiakawanan itu. Justru kadang-kadang perpecahan yang mengemuka.

Ramadhan kali ini, dapat menjadi momentum untuk mewujudkan itu. Kita akan menyelesaikan bulan Ramadhan kedua dalam masa pagebluk covid-19, sepenuhnya dengan solidaritas. 

Setelahnya, tetap saja nilai akan akan menjadi pendukung aspek kehidupan lainya, sekalipun Ramadhan telah berakhir. Sambil menanti, jikalau rezeki mendapatkan Ramadhan berikutnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Reaktulisasi Ubudiyah Dalam Proses Transformasi Masyarakat

Zakat, Instrumen Sosial Ekonomi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar