Ramadhan dengan Dunia Maya, Tidak lagi Hanya Menahan Lapar dan Dahaga

Ramadhan dengan Dunia Maya, Tidak lagi Hanya Menahan Lapar dan Dahaga
Ramadhan dengan Dunia Maya, Tidak lagi Hanya Menahan Lapar dan Dahaga

Terkini.id, Sorong – Kali ini, Ramadhan dirayakan kembali dengan suasana yang sama sekali baru. Tidak lagi dengan gempita, keriuhan, dan juga perhimpunan. Namun, Ramadhan ditapaki dengan kesunyian. Cukup bersama dengan keluarga inti.

Pekan pertama Ramadhan belum usai, Presiden RI Joko Widodo sudah mengumumkan larangan mudik. Teringat pertengkaran tahun lalu, antara kata mudik dan pulang kampung. Apapun itu, ada dua kondisi. Warganet akan mempertengkarkan apa saja.

Dengan kehadiran media sosial, siapapun boleh berkomentar. Juga, komentar apapun kemudian terwadahi, mendapatkan tempat. Termasuk memberikan komentar terhadap kondisi yang bolehjadi tidak berhubungkait dengan Indonesia secara langsung.

Maka, dalam suasana dan kondisi saat ini. Puasa tak lagi hanya pada menahan untuk makan dan minum. Tetapi juga pada klausul yang merusakkan pahala puasa. Ataupun melakukan perbuatan keji dan munkar.

Termasuk diantaranya menahan diri untuk tidak mengetikkan komentar yang tidak perlu. Mari sejenak belajar dari peristiwa komentar warganet Indonesia terhadap pernikahan sejenis di Thailand.

Menarik untuk Anda:

Pada kasus pernikahan tersebut, norma yang berlaku bagi masyarakat Thailand dan Indonesia dipraktikkan dalam pemahaman yang berbeda.

Namun, menghakimi masyarakat Thailand dengan norma yang kita pegang di Indonesia, tentu tidak diperlukan.

Berawal dari sini, ada pemberhentian kerja bagi warga Indonesia di Thailand. Begitu pula dengan pembatalan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang akan berangkat ke Thailand.

Dari peristiwa tersebut, kita dapat memelajari bahwa sesungguhnya berkomentar pada hal-hal yang tidak diperlukan secara substansial, juga perlu dilakukan latihan.

Momentum puasa Ramadhanlah akan memberikan latihan itu. Sehingga melampaui Ramadhan, setelahnya tidak lagi terjadi kondisi yang merusakkan suasana karena tersilap pada komentar ataupun respon yang tidak semestinya.

Akhirnya, puasa perlu dimaknai secara luas. Tidak lagi setakat urusan makan dan minum, tetapi juga pada aspek perilaku. Mentrasnformasikan kesalehan individual menjadi kesalehan sosial.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Reaktulisasi Ubudiyah Dalam Proses Transformasi Masyarakat

Zakat, Instrumen Sosial Ekonomi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar