Bulan Puasa, Hanya Ritual Belaka? Jangan Sampai Menghamba pada Ramadhan

Bulan Puasa, Hanya Ritual Belaka? Jangan Sampai Menghamba pada Ramadhan
Bulan Puasa, Hanya Ritual Belaka? Jangan Sampai Menghamba pada Ramadhan

Terkini.id, Sorong – Ramadhan datang, berjalan sebagaimana putaran waktu. Ketika di awal, kegembiraan yang menyelimuti.

Hari demi hari, akhirnya berkumpul menjadi hitungan bulan. Akhirnya, Ramadhan berlalu.

Diantara hari demi hari itu, dirayakan dengan malam nuzulul quran. Memeringati dimana Quran turun menjadi panduan bagi umat manusia.

Ketika Ramadhan hanya menjadi ritual. Maka, ini jangan sampai terjebak pada penghambaan bukan pada Sang Kuasa, sebaliknya menghambakan diri pada Ramadhan.

Bolehjadi, itulah salah satu hikmahnya dimana dalam hadis qudsi bahwa urusan puasa sepenuhnya menjadi kuasa Allah. Tidak melalui perantaraan siapapun. Hanya pada Allah saja.

Menarik untuk Anda:

Sebab penghambaan hanyalah semata-mata pada Allah, bukan yang lain. Apalagi kalau itu benda, seperti televisi, atau bentuk-bentuk lain yang bukan Ahad, Allah.

Maka, melihat Kembali kepada syahadat. Bahwa sesungguhnya menuhankan Allah adalah dengan meniadakan yang lain, termasuk Ramadhan.

Ibadah dan penghambaan hanya ditujukan dan karena Allah semata saja.

Sebagai ibadah, rujukannya hanya pada sumber-sumber yang suci, yaitu Quran dan Hadis saja. Selebihnya hanya merupakan tambahan yang sama sekali tidak bisa bertentangan.

Nurcholish Madjid (2008) menyebutnya dengan istilah ibadah merupakan institusi iman. Pelaksanaan ibadah ini merupakan bagian dari amal saleh.

Sebagaimana Alquran menyebutkan iman dan amal saleh. Keduanya tidak terpisahkan sama sekali, dan juga menjadi sebuah urutan.

Tidak memungkinkan hanya setakat amal saleh belaka. Tanpa disertai dengan iman. 

Selanjutnya Madjid (2008) mengelaborasi bahwa dalam perjalanan kehidupan manusia, tidak ditemukan adanya institusi iman tanpa melaksanakan ritual.

Sekalipun itu komunisme tang tidak memercayai adanya tuhan, tetap saja memiliki sistem ritual tersendiri dimana menafikan keberadaan Yang Kuasa.

Sejatinya, Ramadhan merupakan bagian dalam menegakkan keimanan itu. Hanya saja, tidak bisa berdiri sendiri tetapi justru mengemuka dalam memperkokoh iman, bukan dimaknai untuk pilar itu sendiri.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Reaktulisasi Ubudiyah Dalam Proses Transformasi Masyarakat

Zakat, Instrumen Sosial Ekonomi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar