Islam Agama Ilmu Pengetahuan

Jam di Museum Istanbul (www.shutterstock.com)
Islam Agama Ilmu Pengetahuan (www.shutterstock.com)

Terkini.id, Sorong – Suatu hari di bulan Maret 2020, saya memposting artikel pendek tentang “dzikir” sebagai ilmu pengetahuan. Seorang kolega meresponnya dengan mengatakan, “jika demikian, Islam itu adalah ilmu pengetahuan,” maka saya pun menjawab, ya benar. 

Sekarang saya ingin melanjutkannya sepintas untuk memaklumkan jawaban saya kepada kolega tersebut tentang mengapa Islam diklaim sebagai agama ilmu pengetahuan.

Seperti yang telah saya kemukakan di postingan tersebut, Islam sebelum menjelma menjadi dogma tentang ketuhanan, ia melewati proses ilmu pengetahuan. Jibril menyuruh Muhammad “bacalah” dan Muhammad bertanya pada Jibril, “apa yang hendak aku baca?” Ini memperlihatkan interaksi didaktik antara seorang guru dan murid.  

Pada akhirnya, sang murid dapat membacanya dengan perantara Kalam. Dalam terjemahan Alquran dari Departemen Agama RI, Kalam ditafsirkan sebagai pena, namun dengan makin banyaknya cara orang memperoleh ilmu pengetahuan di era pasca-kebenaran (post-truth) saat ini. Kalam memiliki varian baru dalam pemaknaan milenialnya.

Dasar-dasar pengetahuan itu terus diperlihatkan dalam pelbagai ayat di dalam Alquran, berupa gugahan kepada manusia, bahwa agama (ber-Tuhan) itu dapat diakalkan (ma’qul) oleh manusia yang berakal (âqil). 

Menarik untuk Anda:

Diantaranya, apakah kamu tidak memperhatikan? Apakah kamu tidak memikirkan? Apakah kamu tidak mengetahui? Apakah kamu tidak merasa? dan sebagainya. 

Ini merupakan cara Alquran mendorong manusia memahami dan merasakan kehadiran Tuhan. Disinilah kedudukan akal, karena hanya mereka yang berakal/cerdas (ûlul al-bâb) yang dapat mengambil pelajaran (wa mâ yadzakkaru illâ ûlul al-bâb/Qs. 2: 269; 39 : 9)  

Gugahan-gugahan itu berorientasi pada cara kerja otak, nalar, intuisi dan rasa batin (dzawq) atau psikognosis manusia. Alquran per se Islam, sebagai sebuah dogma tentang ketuhanan, tidak serta-merta memaksa manusia untuk percaya tentang Tuhan tanpa reserve (Jawa : ujug-ujug), tetapi ia menayangkan sejumlah tanda (âyât, signals). 

Tentang alam semesta termasuk di dalam diri manusia, agar manusia bisa memikirkan dan menalari sejumlah penanda yang terpampang di hadapannya. Alquran menggunakan kata-kata : wa min âyâtihi  dari fenomena alam semesta seolah buku terbuka yang mendorong manusia untuk berpikir, merenung, menalari dan merasakan kehadiran Sang Pencipta.

Misalnya dikatakan : “Hai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus” (Qs. 19 : 43). 

Empirisme Nabiyullah Ibrahim alaihis salam ini adalah salah satu contoh kerja otak, nalar dan rasa batin yang melahirkan tiga kualitas epistemik, yakni bayani, burhani dan ‘irfani.  Kualitas bayani bersifat menggugat wacana, teori dan cara berpikir yang kacau (fallacy) ke cara berpikir yang benar (enlightened). Sedangkan kualitas burhani melahirkan penyingkiran unsur-unsur yang tak masuk akal (irrational matters), misalnya dalam kisah Yusuf dan Zulaikha, dengan pembuktian dan argumentasi yang masuk akal (logic). Selanjutnya, kualitas ‘irfani melahirkan pemahaman akan makna terdalam (ma’rifat, gnostic) dan penyerapan langsung (musyahadah, knowledge by presence).

Begitu pentingnya, ilmu pengetahuan sehingga Alquran menyebut dirinya Al-Dzikr  yang bermakna ilmu pengetahuan atau pelajaran (in-huwa illâ dizkru li al-‘âlamîn, Al-Qur’an itu tak lain kecuali ilmu pengetahuan/pelajaran tentang alam semesta/Qs. 38 : 87). 

Maka salah satu tugas pokok para Nabi dan Rasul adalah mengajarkan ilmu pengetahuan (Qs. 2 : 151).  Ilmu pengetahuanlah yang memprasyaratkan manusia menaklukkan alam semesta (Qs. 55 : 33).  

Al-Qur’an pun menyebutkan bahwa orang yang berilmu dan tidak berilmu itu tidak sama, terdapat garis hipostatis (Qs. 39 : 9), bahkan orang yang berilmu diangkat beberapa derajat kedudukan sosialnya (Qs. 58 : 11).

Menutup postingan ini, saya mengajak kita untuk terus belajar menambah khazanah pengetahuan kita. Karena belajar menuntut ilmu adalah salah satu bentuk jihad di jalan Allah. 

Adam dihormati Tuhan karena ilmunya dan dia tidak dihinakan karena dosanya. Adam dengan kualitas pengetahuan yang dimilikinya (wa ‘allama Âdama al-asmã-a kullahá) menyadari dirinya begitu terhina.

Maka, dia dan istrinya berdoa : rabbanâ dzhalamnâ anfusanâ wa in-lam taghfirlanâ watarhamnâ lanakûnanna min al-khâsirîn (Ya Tuhan kami, kami telah menghinakan diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi/Qs. 7 : 23). 

Realitas menunjukkan, pada taraf seseorang terjatuh pada posisi yang terhina, maka ilmu pengetahuan dan kecakapan yang dimilikinya dapat mengangkat rasa percaya dirinya kembali untuk menjalani kehidupan seperti sediakala. 

Ia akan selalu optimis untuk kembali menjalani kehidupan secara normal, life must go on! Itu yang terjadi pada Adam dan Hawa. 

Mereka menempuh kehidupan di bumi dari “0” setelah sebelumnya berkecukupan. Tapi dengan kecakapan ilmu dan teknik yang telah diajarkan Tuhan padanya, mereka dapat mengembangkan kehidupan di bumi dan melahirkan keturunan hingga generasi kita.

Moksen Idris Sirfefa
Pengkaji Agama dan Kebudayaan, Tinggal di Jakarta.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Reaktulisasi Ubudiyah Dalam Proses Transformasi Masyarakat

Zakat, Instrumen Sosial Ekonomi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar