Ramadhan dengan Inovasi, Adaptasi Tradisi dan Menghindari Ketergesa-gesaan

Pasangan Beribadah di Majid Istiqlal (www.shutterstock.com)
Ramadhan dengan Inovasi, Adaptasi Tradisi dan Menghindari Ketergesa-gesaan

Terkini.id, Sorong – Hari kesepuluh telah berlalu. Kita menapaki hari sepuluh kedua. Ramadhan selalu dirindukan, namun berlalu dengan begitu cepatnya.

Dinati-nantikan, namun saat datang berlalu dengan sangat cepat.

Setelahnya, merindukan lagi Ramadhan.

Kini, Ramadhan masih membersamai kita. Dengan masa yang ada, melaluinya dengan khidmat. Walaupun masih tetap di rumah masing-masing.

Kebersamaan direformulasi. Tidak lagi dengan berkerumun. Tetapi esensi yang utama, bukan lagi hanya setakat seremonial belaka. Dengan tetap patuh pada rukun dan syarat jikalau itu ibadah.

Menarik untuk Anda:

Ramadhan tetap bersama. Namun dilalui dengan tradisi yang baru. Menjadi momentum untuk memulai menginisiasi budaya adaptif dalam kondisi pagebluk covid-19.

Semangat adaptasi, sebuah tugas bersama untuk memeroleh dan mencapainya. Perlu waktu, dan juga kesabaran.

Ketegesa-gesaan akan membawa kepada kecelakaan. Dimana kita bisa lihat ada institusi yang membuka lembaganya untuk mulai beraktivitas. Tetapi tidak dibarengi dengan persiapan.

Akhirnya, peserta didik yang menjadi korban. Bahkan mencapai ribuan siswa.

Maka, pelajaran yang perlu didaraskan kembali dalam Ramadhan adalah kemampuan untuk mengadaptasikan diri.

Termasuk dalam bagian itu untuk tidak tergesa-gesa, dan mengambil Langkah yang memungkinkan untuk dilaksanakan dengan melakukan persiapan.

Kata kuncinya adalah al-muhafadzah (menjaga tradisi) dan al-ahzu al-jadid al-ashlah (inovasi). Dengan demikian, tradisi bukanlah benda yang stagnan.

Selalu dimungkinkan adanya tradisi dan inovasi. Pada hal-hal yang tidak diatur dalam bentuk ubudiyah, maka tetap saja dimungkinkan untuk selalu mengadakan adaptasi dan reformulasi.

Sebagai contoh, tetap saja melaksanakan ceramah. Hanya saja jamaah masjid bisa dipenuhi dengan kapasitas seperduanya.

Sementara untuk ceramah, bisa ditambahkan dengan streaming melalui media sosial atau platform video.

Kondisi yang begini, menjadi perhatian. Dimana ibadah tetap berjalan, dan juga usaha maksimal untuk mencegah penyebaran covid-19.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Reaktulisasi Ubudiyah Dalam Proses Transformasi Masyarakat

Zakat, Instrumen Sosial Ekonomi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar