Natal, Keagamaan, dan Keindonesiaan Kita

Terkini.id, Sorong – Desember telah berlalu. Dalam hitungan tak lagi melebihi jari tangan dalam satu telapak, kita telah menapaki Januari. Dengan penanggalan tahun yang berbeda.

Sebelum semuanya berlalu, dan kita kembali riuh di tahun mendatang, ada kesempatan untuk menengok kembali sejenak Desember.

Tidak saja soal banjir di tanah air. Memberi limpahan air yang menimbulkan genangan. Juga terkait dengan kenangan, dan begitu pula rusaknya barang-barang di rumah. Serta sarana publik yang juga turut rusak, dan bahkan hilang.

Kalau soal air dan banjir itu sudah kita pelajari. Sejak sekolah dasar, pelajarannya sederhana. Air yang turun dari langit, tersebab pada lahan yang tidak lagi bisa menyerap, maka wujudlah banjir.

Hutan menjadi gundul. Pohon yang merupakan kekayaan alam, sekaligus biosfer dunia, terkonversi menjadi lahan sawit. 

Kita kembali pada keriuhan Desember. Salah satunya soal ucapan natal. 

Baik percakapan di dunia maya. Begitu pula dengan  aktivitas media sosial. Kesemuanya terlibat dalam pro dan kontra soal ucapan natal.

Padahal, kalaulah kita lihat dalam keseharian. Tak banyak yang bisa saya kemukakan. Sebagai contoh di timur Indonesia. Mulai dari Manado, sampai ke Merauke, kita lihat perayaan Natal yang khidmat.

Saudara Protestan dan Katolik mengirimkan hidangan makanan ke kerabat dan handai taulan. Sekalipun berbeda agama. Sementara jamuan minum ketidak bersua, justru dihidangkan dengan minuman dalam kemasan.

Kalaupun ada perayaan Natal, maka dalam sesi ibadah itulah yang khas untuk saudara Protestan dan Katolik. Apalagi kalau sudah masuk dalam rentang waktu misa.

Sementara kemeriahan Natal yang dinikmati bersama adalah perjumpaan. Di Sulawesi Utara, kadang disebut bakudapa. Hanya pada pertemuan dan juga tatap muka untuk melepaskan kangen dan saling bertukar kabar saja yang ada.

Ulamapun sudah menyampaikan pelbagai pandangan. Ada di antara mereka yang menyatakan kebolehan mengucapkan “Selamat Natal”. Sebagian yang lain, bahkan haram.

Olehnya, bagi yang mengikuti pandangan tertentu. Silahkan dipraktikkan. Sehingga tidak perlu lagi berdebat berpanjang-panjang kata, sehingga mengalihkan dari fokus yang lain.

Nikmat ketentraman terkadang kita tidak sadari. Nantinya akan kaget kalaulah kenyamanan yang selama ini dalam bentuk keamanan tidak lagi dialami.

Keamanan, kenyamanan, dan ketentraman, tidaklah datang begitu saja.

Perlu kesamaan pandangan untuk mewujudkannya. Jangan sampai justru ini menjadi agenda pihak tertentu untuk membuat Indonesia kita gaduh dari Desember ke Desember. Sehingga kita justru tidak fokus pada urusan yang wajib diselesaikan.

Kita berdepan dengan urusan banjir. Itu pelajaran murid SD bahwa kalaulah hujan turun kemudian resapan air di tanah yang gundul tidak dapat menampung. Maka, akan terjadi banjir. Sesederhana itu saja.

Namun, kita lupa dengan pelajaran itu. Lahan-lahan pertanian terkonversi menjadi pabrik. Sehingga apapun kita impor. Bahkan ketika kita memiliki garis pantai dari Merauke sampai ke Sabang, nyatanya kita impor garam.

Sebuah ironi, dimana pengetahuan dan juga alam yang kita miliki tidak digunakan untuk mendorong kesejahteraan. Justru, kita sibuk berdebat pada soal-soal yang sejatinya sudah selesai. 

Sehingga urusan garam tadi terlupakan.

Januari telah kita jalani. Perjalanan waktu akan mengantar kita detik demi detik. Soal rasa-rasanya cepat atau lambat. Itu soal perasaan saja. Detik tidak pernah berubah kuantitas dan jangkaanya.

Namun, kita punya kesempatan dalam sebelas bulan berikutnya. Apakah perdebatan itu tetap akan wujud sehingga melupakan soal garam. Atau kita Kembali terjebak pada soal keharaman dan kehalalan ucapan natal. Kita nantikan.

Bagikan