Ahmad Amiruddin, Jejak dan Warisan untuk Sulawesi Selatan
Komentar

Ahmad Amiruddin, Jejak dan Warisan untuk Sulawesi Selatan

Komentar

Terkini.id, Sorong – Dengan tidak membatasi bahwa kiprahnya hanya sebatas Sulawesi Selatan, namun sosok allahuyarham Ahmad Amiruddin yang menjabat gubernur Sulawesi Selatan 1983-1992 menjadi nama yang khas dan menempati sisi tersendiri dalam ingatan masing-masing warga.

Bolehjadi, generasi yang lahir setelah 22 Maret 2014 dimana beliau wafat, tidak lagi mengenalnya.

Salah satu nama yang menggunakan kata yang sama adalah pemain sepak bola yang pernah memperkuat PSM, Persiram Raja Ampat, dan Arema Indonesia.

Kini, nama itu terpatri juga di salah satu auditorium Universitas Hasanuddin. Dimana sebelum menjabat gubernur, allahuyarham Prof. Amiruddin adalah rektor Unhas yang memindahkan kampus dari Kandea, Makassar, ke Tamalanrea.

Pembangunan kampus Unhas telah rampung sejak 1989. Ketika menjabat Gubernur Sulawesi Selatan (1983-1992), Prof. Amiruddin tetap saja memberi perhatian yang khusus untuk Unhas. 

Dalam obrolan antara Prof. Amiruddin dengan B. J. Habibie ada nazar untuk terjun ke danau Unhas terkait dengan pembangunan kampus dimana Mentri Riset dan Teknologi saat itu, juga turut dalam dukungan pembangunan. Apalagi dalam perjalanannya, Unhaslah menjadi kampus pertama di luar pulau Jawa yang melaksanakan pendidikan pascasarjana.

Obrolan ini masih saja tersimpan dalam memori B.J. Habibie sehingga seusai kuliah umum pada Mei 1991, B.J. Habibie mendorong Prof. Amiruddin bersama dengan Prof. Makagiansar ke danau Unhas.

Bukan saja Unhas, dimana kampus yang dipindahkan. Begitu pula dengan pembangunan kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Kantor yang ada saat ini merupakan rintisan Prof. Amiruddin yang sebelum itu merupakan kawasan kuburan.

Satu hal lagi, baik di kampus Unhas kini, dan juga kawasan perkantoran Gubernur Sulawesi Selatan, keduanya menjadi hutan kota.

Maka, dapat dikatakan bahwa dalam bangunan yang dijejali dengan beton dan semen, tetap saja ruang hijau menjadi bagian pembangunan secara terencana.

Ahmad Amiruddin Pabittei telah meninggalkan dunia ini mendekati dua puluh tahun pada 2024 yang akan datang.

Namun, warisan dan peninggalannya kini tetap saja dinikmati. Sekali lagi, bukan dalam regional Sulawesi Selatan saja tetapi jauh melampaui itu semua, termasuk Malaysia.