Ramadan, Sambutan dan Sunyi di Tengah Pagebluk Covid-19

Terkini.id, Sorong – Berangkat dari Jayapura, ke Makassar. Menyambut Ramadan mengangankan bersama keluarga. Atas keinginan itu kemudian menjadwalkan kegiatan sehingga bisa tiba di rumah sebelum tarawih.

Ramadan di tiga tahun terakhir, menjadi kesempatan merayakannya bersama keluarga inti. Sekalipun awalnya berbeda dengan Ramadan yang sudah puluhan tahun dilalui.

Justru dengan dua tahun yang terlewati menjadi sebuah tipikal tersendiri bagaimana merayakannya dengan segala keterbatasan.

Baca Juga: Idul fitri, Refleksi dan Kesempatan Pulang

Bulan suci ini kemudian dimaknai dengan pemahaman yang beragam. Bukan semata-mata dengan banyaknya orang. Juga dapat dimaknai dengan kebersamaan dalam lingkungan rumah. Apalagi kalau rumah-rumah di kota, ukurannya dalam meter yang terbatas.

Belum lagi, ujian demi ujian kita perlu lalui bersama. Dimana, tidak saja Ramadan yang datang menyapa dengan segala kebahagiaan yang mengiringinya.

Baca Juga: Perjalanan Ramadan Usai, Saatnya Berhenti Sebelum Perjalanan Berikutnya

Pajak yang naik, antrian solar yang menjadikan macet, dan begitupun dengan naiknya harga minyak goreng setelah kelangkaan.

Kesemuanya ini menjadi ujian, apakah kita bisa melaluinya atau justru berkubang dengan komentar yang tidak menghasilkan apa-apa.

Begitu pula dengan adanya perbedaan dalam tolok ukur menentukan Ramadan. Kita telah melaluinya dalam hitungan berpuluh-puluh kali. Hanya saja, justru ketika ada yang memilih tolok ukur berbeda kemudian dilabeli sebagai anti pemerintah.

Baca Juga: Perjalanan Ramadan Usai, Saatnya Berhenti Sebelum Perjalanan Berikutnya

Ini juga sebuah ujian. Dimana pemahaman berbeda dengan pemerintah bisasaja dipilih dengan tidak perlu menimbulkan kegaduhan. Tak lain, sebagai sebuah ekspresi beragama belaka.

Pagebluk masih saja melanda. Kitapun sudah mengadaptasikan diri dengan pelbagai kondisi. Kemudian memasuki sebuah era kenormalan baru.

Pada saat-saat pagebluk kesunyian puasa kita nikmati.

Dimana pula dalam sisi tertentu puasa justru merupakan ibadah yang sunyi. Hanya antara hamba dan Allah semata yang mengetahui laku puasa.

Sehingga pahalanyapun diganjar oleh Sang Khalik.

Dua sisi itu kemudian menjadi warna-warni yang mengiringi tiga Ramadan terakhir.

Jika Ramadan sebelumnya ditempuh dengan petasan, mercon, dan ledakan lainnya. Kini, dengan berkumpul dengan keluarga. Bahkan tidak lagi dengan jumlah yang “banyak” untuk buka puasa, tarawih, dan sahur.

Sekalipun tetap ada buka puasa bersama, dan sahur yang juga bersama. Namun, tidak dengan suasana “kenduri”. Begitu pula, sahur on the road yang kerap dilaksanakan sembari berbagi dengan yang papa.

Tetap saja berbagi dengan mereka yang mustadhafin. Namun, tidak lagi dengan berkerumun.

Ekspresi keagamaan mengalami redefinisi dengan pelbagai situasi yang mendera.

Akhirnya, pagebluk covid-19 memberikan pengalaman dalam kaitan tradisi agama yang tidak hanya memerhatikan seremonial. Bahkan tetap mengupayakan esensi. Sehingga menjalaninya dengan tekun untuk memahami apa yang menjadi “isi” agama.

Selamat menyambut Ramadan.

Bagikan