Terkini.id, Sorong – Andai saja keberagaman itu tercela, maka pastinya Allah akan jadikan menjadi umat yang satu. Namun, justru ujian mendekatkan kepada ketaqwaan ketika kita menerima perbedaan. Selanjutnya, mengapresiasi setiap hal-hal yang berbeda.
Bahkan untuk mewujudkan persatuan, dibangun dari perbedaan. Ada kepelbagaian dalam suku, etnis, dan juga bahasa. Semuanya bisa menjadi jalan-jalan ketaqwaan.
Tidak itu saja, dalam beragama. Sampai pada intra umat beragama sekalipun juga ada perbedaan.
Sebagaimana yang sudah dilalui, perbedaan dalam menerapkan tolok ukur tertentu untuk penetuan ramadan. Namun, tidaklah dapat dijustifikasi bahwa yang tidak mengikut pada sidang isbath pemerintah mengingari kepemimpinan ulil amri.
Ini perlu diterima sebagai sebuah perbedaan juga. Apapun tolok ukur yang digunakan, apakah dengan menggunakan rukyatul hilal ataupun hisab, maka sama posisinya dalam ijtihad fiqhiyah.
Perbedaan akan terus wujud sebagai bagian dari sosiologi yang sejatinya adalah kehidupan itu sendiri.
Ketika wujud perbedaan, maka memahami bahwa perbedaan adalah bagian kehidupan dan warna yang berbeda itulah kemudian membawa kepada keindahan.
Belum lagi, sebuah cara pandang tak lepas dari keberadaan kita dalam lingkungan yang didiami selama ini.
Penerimaan terhadap sebuah paham dimana kita bergelut dan hidup di dalamnya.
Cara pandang itulah yang terbentuk selama ini sehingga dijadikan sebagai sebuah pegangan. Tetapi ini tidak boleh kemudian dijadikan sebagai satu-satunya ataupun kemutlakan sehingga menafikan orang lain.
Dengan tetap berpegang teguh terhadap apa yang dipahami. Pada saat yang sama, memahami bahwa paham yang dipegang teguh ataupun dilaksanakan orang lain adalah merupakan sebuah pandangan yang juga tetap eksis.
Dalam satu masa tertentu, ada pandangan yang kemudian dipegang. Bolehjadi dalam masa yang lain, kemudian beralih sesuai dengan kondisi yang mengiringinya.
Maka, menjadikan paham sebagai yang maha juga perlu dihindari. Sebagai seorang muslim, Yang Maha hanyalah Allah belaka.










