Mengenal Lomba Peneliti Belia, Penguatan Ekosistem Riset Sejak Sekolah Menengah

Mengenal Lomba Peneliti Belia, Penguatan Ekosistem Riset Sejak Sekolah Menengah

IS
Ismail Suardi Wekke

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Sorong – Sampai pada akhir abad 20, kita mengenal Karya Ilmiah Remaja (KIR). Dimana kelompok kecil siswa di sekolah menengah sejak dini dilatih untuk meneliti. 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kini bertransformasi menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan secara rutin acara lomba untuk memberi kesempatan bagi aktualisasi kemampuan siswa.

Begitu pula dengan syarat lulus di Madrasah Aliyah di tahun 1990-an, calon alumnus wajib menulis sebuah mini-penelitian. Salah satu senior di Pesantren IMMIM, menjadi nominasi dalam final dan diundang ke istana negara, saat itu.

Ingatan itu masih tetap tersimpan kini, ketika itu namanya diumumkan di masjid usai salat maghrib. Sehingga menjadi sebuah prestasi bagi institusi pesantren.

Dalam skala provinsi, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia orwil Sulawesi Selatan melaksanakan lomba, dan salah satu pemenangnya saya dapatkan. Sehingga mendapatkan beasiswa selama setahun dengan penerimaan uang setiap bulan.

Diterima di sekretariat ICMI yang bertempat di Jl. Baraya. Kini, bangunan itu sudah tidak ada. Menjadi lahan bagi Masjid Al Markaz Jendral Jusuf.

Malam penerimaan hadiah, menumpang mobil pimpinan pesantren. Kami menuju auditorium Al Jibra yang sejak dulu sampai kini tetap megah. Acara dilaksanakan di sana, dan mendapatkan bonus bertemu dengan allahuyarham Prof. Dr. H. Abdurahman Basalamah. Dokumentasi photo itu tetap tersimpan rapi sampai kini.

Lomba Peneliti Belia

Dalam satu kesempatan, membaca koran Kompas di Mataram. Saat itu ada acara yang dilaksanakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Kemudian mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan di Yogyakarta.

Kemudian kesempatan itulah mengenal bagaimana keberadaan guru pembimbing penelitian, dan saya turut bergabung untuk belajar.

Masa-masa pandemi memberikan kesempatan yang leluasa. Bisa berdiskusi dengan direktur CYS (Center for Young Scientists), Monika Raharti, Ph.D.

Dengan kolaborasi kawan-kawan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UIN Alauddin, dan mengajak Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia, maka wujudlah aktivitas kuliah tamu dan acara seminar.

Dalam kesempatan itu, kemudian mengenal bagaimana Lomba Peneliti Belia. Selanjutnya, dalam posisi sebagai bagian di Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, program peneliti belia ini kami kenalkan selangkah demi selangkah.

Bahkan dengan kalimat yang bombastis bahwa secara pribadi saya bermimpi ada anak-anak Maros yang bisa duduk di bangku kuliah Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, dll.

Tentu selama ini sudah ada, hanya saja dalam jumlah yang memungkinkan untuk terus bertambah dari waktu ke waktu.

Lomba Peneliti Belia dibimbing oleh seorang guru. Sebelum menjadi pembimbing tentu bisa saja tanpa syarat apapun. Untuk memberikan penguatan maka memungkinkan untuk mengikuti sertifikasi guru pembimbing penelitian yang dilaksanakan CYS.

Dengan kemampuan membimbing penelitian ini, akan menjadi sebuah kemahiran untuk bersama-sama dengan siswa dalam menjalankan penelitian.

Pelaksanaan Lomba Peneliti Belia, diawali dari tingkat provinsi kemudian peserta yang terseleksi akan diundang ke tingkat nasional.

Para pemenang di tingkat nasional itu kemudian mendapatkan kesempatan berlomba di tingkat internasional.

Aktivitas Lomba Peneliti Belia ini dijadikan sebagai instrumen dalam mendorong wujudnya ekosistem riset diawali dari tingkat sekolah menengah. Sehingga kemampuan ini sudah diperkenalkan bagi siswa sekolah menengah, untuk mendorong minat mereka bergelut dengan aktivitas riset pada pendidikan tinggi.

Untuk mengenalkan ini, maka melalui pelbagai kesempatan mengundang direktur CYS, Monika Raharti, Ph.D. untuk menjelaskan secara langsung kepada guru dan juga siswa terkait LBP.

Setelah mengenalnya, kemudian guru dan siswa yang memiliki minat terhadap aktivitas penelitian akan mengikuti rangkaian yang sudah diprogramkan CYS beserta dengan kelas-kelas penguatan riset. Begitu pula dengan bimbingan bagi guru dan siswa untuk mengenal lebih jauh bagaimana melaksanakan sebuah penelitian.

Masa Depan Peneliti Belia Sebagai Pilar Ekosistem Riset

Kalau saja 1990, masa itu menulis makalah dengan basis penelitian sudah terlaksana. Maka, untuk 2022 itu sudah mengalami pengembangan.

Tidak saja mengenalkan pelbagai keperluan literasi yang dasar. Juga diperlukan kemampuan validasi dan juga mengumpulkan data.

Kurikulum 2013 yang sebentar lagi akan berusia sepuluh tahun. Ini merupakan sebuah peluang untuk mengintegrasikannya dengan aktifitas di luar kelas. Dimana kurikulum 2013 diterapkan dengan pendekatan saintifik.

Ini bermakna bahwa kegiatan yang menjadikan penelitian sebagai bagian dari pengalaman belajar, pada saat yang sama menjadi daya dukung bagi pengembangan kurikulum tersebut.

Peneliti belia, pada saatnya mereka akan menjadi mahasiswa. Maka, dengan adanya pelatihan dan pembelajaran sejak di sekolah menengah akan menjadi pengisi bagi struktur riset di negeri ini.

Perluasan pembelajarannya, akan menjadi peluang emas mendapatkan minat penelitian sejak dini. Ini dapat diartikan bahwa ketersediaan sumber daya manusia untuk itu akan memadai dan tidak lagi kekurangan. Semoga.