Ramadan dan Paskah, Perjumpaan Antariman dengan Perdamaian
Komentar

Ramadan dan Paskah, Perjumpaan Antariman dengan Perdamaian

Komentar

Terkini.id, Sorong – Jumat hari ini, 15 April 2022. Bukan saja dalam suasan ramadan yang menjadi bulan berkah bagi umat Islam.

Juga, pada kesempatan yang sama menjadi hari Jumat Agung bagi Kristiani. Dimana dalam satu hari, menjadi dua momen yang sama-sama spesialnya. Selanjutnya, hari minggu yang akan datang menjadi hari Paskah.

Bagi umat Islam tentu ramadan sebuah keberkahan. Sama dengan umat Kristiani, juga adalah keberkahan. Dengan keberkahan di setiap masyarakat, akan menjadi daya dukung bagi wujudnya masyarakat madani.

Ketika umat beragama mengekspresikan kepercayaannya, ini sebuah pondasi dalam kaitan dengan kemampuan membawa individu dan masyarakat untuk berada dalam tuntunan iman.

Masyarakat beragama yang menjalankan agamanya, pada kesempatan berikutnya akan menjadi bagian dalam penciptaan perdamaian. Dimana tidak ada satu agama apapun, termasuk etika apapun yang menginginkan kerusuhan.

Iman yang dipeluk, terlihat dengan adanya amal saleh.

Tanpa itu, maka tolok ukur iman tidak bisa dapat dilihat dalam kasat mata seorang hamba. Olehnya, ekspresi keimanan hanya dapat terlihat dengan wujud ihsan pemeluknya.

Keberagaman dalam beragama, hanya dapat dilalui jikalau ada pengalaman dan juga penglamaan. Tidak dapat hanya setakat pada dugaan. Bolehjadi, perjumpaan antariman dapat terjadi jikalau sudah melalui adanya pengalaman berbeda.

Dengan berbeda itulah kemudian akan mengukuhkan bahwa pilihan agama yang diyakini merupakan sebuah kebenaran. Pada saat yang sama kemudian tetap mengapresiasi apa yang diyakini orang lain.

Justru dengan kemampuan berbeda itulah dapat melihat orang lain yang tidak sama dalam keyakinan yang kita anut.

Baik dengan datangnya ramadan, pada saat yang sama juga memeringati Jumat Agung dan Paskah. Keduanya justru kemudian berjumpa dan dirayakan secara bersama.

Pilihan secara internal bolehjadi tetap masing-masing benar. Tanpa harus menyalahkan yang lain. Ketika berjumpa di ranah publik, maka keberadaanya justru setara. 

Sekali lagi, ini dalam konteks publik. Tentu dalam soal iman, masing-masing adalah kebenaran yang hakiki untuk setiap pemeluknya masing-masing.

Hanya saja, dalam relasi sebagai warga. Maka, perjumpaan antariman dapat dilakukan untuk saling memahami. Begitu juga tradisi keagamaan  dalam Islam, iman orang lain tidak pernah disepelekan.