Ramadan, dari Ritual ke Kesalehan Sosial

Terkini.id, Sorong – Menjalankan puasa bukan hanya soal makan dan minum. Ini menyangkut pula dengan urusan bagaimana kita menahan hawa nafsu lainnya. Serta mendorong pada perbaikan ibadah yang sejatinya akan membawa kepada taqwa.

Begitu pula seiring dengan datangnya syawal, maka zakat fitrah menjadi kewajiban bagi mendistribusikan kesyukuran akan datangnya hari berbuka.

Tidaklah memungkinkan datangnya syawal ditandai dengan hari fitri lalu ada diantara kita yang tidak bisa merayakannya hanya karena ketiadaan makanan. Maka, dengan adanya zakat fitrah yang diambil dari harta yang berpunya berupa makanan sehari-hari akan menjadi sebuah kesempatan bagi yang miskin sekalipun untuk tetap makan.

Baca Juga: Mudik dan Syawal, Menuju Kepada Fitrah

Sejatinya, puasa sebagai sebuah ritual tidaklah hanya sebagai memperkukuh hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta.

Setelahnya perlu disempurnakan dengan zakat fitrah. Inilah yang menjadi penghubung antara sesama hamba. Sehingga sekaligus dalam ramadan, keduanya akan tertunaikan. Hubungan hablun minallah (dengan Allah) dan juga hablun minannas (dengan manusia).

Baca Juga: Puasa, Tarawih, dan Zakat, Trisula Praktik Muslim Menuju Taqwa dengan...

Tiadalah lengkap sebuah peribadatan kalau hanya setakat hubungan dengan langit semata-mata.

Padahal kehidupan manusia berada di bumi. Olehnya, tetaplah perlu berpijak di tanah dan berada bersama dengan kehidupan manusia.

Ibadah sejatinya merupakan menhubungkan diri dengan keduanya. Langit dan bumi sama-sama harus terpenuhi.

Baca Juga: Puasa, Tarawih, dan Zakat, Trisula Praktik Muslim Menuju Taqwa dengan...

Ketika langit saja, maka manusia semata-mata pada ritual saja. Ataupun hanya dengan sesama hamba semata, maka itu hanya pada urusan sosial saja.

Perlu diseimbangkan antara keduanya. Hidup yang terbaik terletak pada kesimbangan urusan. “urusan yang selalu terbaik pada bagian tengah-tengah”, begitu pesan pepatah Arab.

Pada wujud ekspresi beragama yang sudah berjalan pada rel sesuai perintah Rasulullah, maka juga harus terlihat pada ketaatan berlalu lintas. Ini juga bagian dari ekspresi beragama.

Tidaklah hanya sampai dengan puasa dan zakat yang sudah tertunaikan tetapi pada saat menjumpai lampu lalu lintas kemudian abai dengan itu. Jangan sampai menjadi asal sehingga berujung pada musabab kematian.

Begitu pula bagi yang sudah menunaikan puasa dan zakat, tidaklah memungkinkan membuang sampah sembarangan. Apalagi ketika mengendarai kendaraan dan membuang sampah melalui jendela mobil.

Akhirnya, perlu kembali dilihat. Jangan sampai hanya menyebut bahwa jumlah umat Islam terbesar di Indonesia, tetapi kita hanya berhenti pada jumlah. Pada saat yang sama, jumlah itu tak membawa pada kualitas kehidupan dalam urusan berbangsa dan bernegara.

Bagikan