Setiap Malam Ramadan Menjadi Malam Ganjil, Potret Kemampuan Menerima Perbedaan

Terkini.id, Sorong – Ramadan yang akan segera berlalu. Begitu memasuki sepuluh hari terakhir, warganet kemudian mengetikkan komentar “setiap malam ramadan di Indonesia semuanya malam ganjil”.

Ini merujuk dimana kewujudan pemulaan puasa di 2 April, dan 3 April. Sehingga dengan mengikuti adanya dua perhitungan itu, maka setiap malam dalam sepuluh hari terakhir, tersedia malam-malam ganjil.

Sementara itu, dalam menyelesaikan pelajaran di kelas tiga sekolah dasar. Putri kami bertanya “apakah perbedaan pendapat itu dibolehkan?’.

Baca Juga: Idul fitri, Refleksi dan Kesempatan Pulang

Dengan sigap saya menjawab “sangat boleh, bahkan manusiawi”.

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang lumrah. Masih dalam pelajaran yang sama bahwa jangan sampai sebuah perbedaan pendapat memacu pertengkaran.

Baca Juga: Perjalanan Ramadan Usai, Saatnya Berhenti Sebelum Perjalanan Berikutnya

Ketika ini sudah mulai menjadi pelajaran murid sekolah dasar, maka mereka akan tumbuh dengan pemahaman bahwa tidak masalah adanya perbedaan pandangan. Selama dalam perbedaan tersebut tidak menjadikannya sebagai sebuah awal dalam pertengkaran.

Termasuk dalam penentuan pelaksanaan puasa. Sejatinya, ada penggunaan tolok ukur yang tidak sama.

Untuk sampai pada persamaan dalam hal-hal teknis, maka tentu perlu diskusi yang berkelanjutan.

Baca Juga: Perjalanan Ramadan Usai, Saatnya Berhenti Sebelum Perjalanan Berikutnya

Sementara Alquran dalam surah Al Anbiya ayat 92 sudah menjelaskan keberadaan ummatan wahidah (ummat yang satu).

Sejalan dengan itu, pesan Buya Hamka yang kemudian dijadikan sebagai salah satu panduan organisasi di Ikatan Masjid Musallah Indonesia Muttahidah (IMMIM) “Bersatu dalam aqidah, toleransi dalam furu dan khilafiyah”.

Persatuan dan kesatuan dalam urusan tauhid. Sementara dalam soal furu ataupun khilafiyah adalah memungkinkan perbedaan.

Termasuk dalam penentuan datangnya 1 ramadan, dimana masing-masing pihak telah memiliki tolok ukur sendiri. Sehingga untuk sampai penyamaan persepsi terkait dengan ini, masih diperlukan waktu dan juga lagi-lagi diskusi berkelanjutan.

“Menerima kenyataan” begitu kata putri kami yang tertua. Dalam memahami adanya perbedaan pandangan, maka ketika sudah mendialogkan dan tetap saja pihak menjalani pilihan pandangannya masing-masing, maka kita pada akhirnya menerima keadaan yang wujud.

Masih sekaitan dengan ummatan wahidah, ayat 93 dalam surah An-Nahl mengemukakan bahwa Allah memiliki kemampuan untuk mempersatukan semuanya. Dilanjutkan, bahwa petunjuk menjadi kewenangan Allah semata.

Olehnya terkait dengan perbedaan, kita memohonkan kepada Allah bahwa perbedaan pandangan merupakan khazanah. Sekaligus jangan sampai menjadi awal dari pertengkaran.

Bagikan