Mudik dan Syawal, Menuju Kepada Fitrah

Terkini.id, Sorong – Begitu menghadapi syawal, mudik menjadi pilihan. Walau tak serumpun, adapula kata udik yang berarti kampung. Walau tak selamanya mudik harus pula menjadi perjalanan pulang kampung.

Akhir dari ramadan membawa pertemuan pada syawal. Dimana fitrah yang dirayakan dengan idul fitri. Dimana selama sebulan sebelumnya dirayakan dengan berpuasa. Menahan lapar dan dahaga serta hawa nafsu lainnya.

Sehingga dengan datangnya 1 syawal, justru semua yang diwajibkan selama sebulan sebelumnya menjadi haram. Pada saat idul fitri adalah hari untuk bergembira. Makan dan minum kini dibolehkan dan menjadi haram untuk berpuasa.

Baca Juga: Idul fitri, Refleksi dan Kesempatan Pulang

Untuk memastikan bahwa si papa miskinpun tetap bergembira, maka dijadikan instrumen zakat fitrah dari apa yang dimakan sehari-hari. Bagi kita di Indonesia, dimana beras yang menjadi makanan pokok. Zakat fitrahpun dikeluarkan berdasarkan takaran beras.

Kesemarakan sambutan akhir ramadan dan dengan datangnya syawal dirayakan salah satunya dengan mudik. Bertemu sanak saudara dan handai taulan.

Baca Juga: Perjalanan Ramadan Usai, Saatnya Berhenti Sebelum Perjalanan Berikutnya

Bahkan ada yang rela meminjam uang untuk perjalanan pulang. Bolehjadi ini menjadi sebuah rihlah yang dipenuhi dengan dimensi spiritual.

Bertemu dengan orang yang dirindukan, kemudian menuntaskan kegembiraan bersama dengan mereka.

Begitu pula, makanan yang disajikan secara khusus kadang datangnya pada hari raya saja. Ketupat, buras, dan lontong menjadi diantara makanan yang disajikan. Bahkan teramat jarang dijumpai jikalau saja bukan hari raya yang sangat khas.

Baca Juga: Perjalanan Ramadan Usai, Saatnya Berhenti Sebelum Perjalanan Berikutnya

Disantap dengan kegembiraan dan dibagikan kepada saudara dan keluarga serta tetangga.

Semasa idul fitri kita menyaksikan adanya kiriman makanan. Sekalipun itu di masa-masa puncak pandemic covid-19 tetap saja berkirim makanan menjadi tradisi. Walau tidak bisa berkumpul.

Kini, bersua dengan keluarga sudah dapat dilakukan. Dua ramadan yang berlalu, berkumpul sangat terbatas pada keluarga inti saja.

Anjangsana ke tetangga dan keluarga lainnya tak dapat dilakukan semasa itu.

Dengan melandainya kasus-kasus covid-19, bersua dan berziarah sudah dapat dilaksanakan. Walau dengan tetap kehati-hatian, sesekali menjaga sterilitas tangan.

Fitrah begitu penuh dengan perjuangan untuk meraihknya. Setelahnya, tetap dirawat dengan ibadah yang mengiringi. Dimana jangan sampai seusai ramadan, berlalu pulalah semua kebaikan yang telah diupayakan.

Kembali ke fitrah, bermakna pula bahwa kebahagiaan dan kebeningan hati senantiasa terjaga. Semoga ramadan menjadi kesempatan untuk membawa kebaikan sekalipun ramadan telah berlalu.

Bagikan