Baca ini! 4 Skill Jitu Menjadi Mahasiswa Trendsetter Abad 21

Baca ini! 4 Skill Jitu Menjadi Mahasiswa Trendsetter Abad 21

RR
Ruslan Rasid

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Sorong. Mahasiswa adalah calon ilmuwan yang memiliki peran sebagai agent of change  atau dalam iman Islam disebut dengan istilah khairul ummah (orang pilihan) yang membawa obor ilmu pengetahuan.

Sebagai seorang agen perubahan dalam lingkup akademik, mahasiswa dituntut menjadi seorang trendsetter/orang yang membuat tren/panutan dalam hal berkreasi dan berinovasi terutama perannya sebagai seorang pembelajar. Bukan sebagai mahasiswa follower atau ikut-ikutan (ikut ramai, read)

to the point...

Setidaknya ada 4 kemampuan atau skill yang harus selalu dilatih oleh seorang mahasiswa agar menjadi seorang mahasiswa trendsetter minimal di lingkup kampusnya.

Adapun skill yang saya maksudkan tersebut diistilahkan dengan 4Cs yakni Critical thinking, Creativity, Collaboration and Communication.

Sebagai pertanggungjawaban keilmuan, Istiah 4Cs ini saya adopsi  dari bagian kecil Framework for 21st Century Learning, yakni sebuah kerangka konseptual yang menggambarkan model pembelajaran abad 21.

Kerangka ini kemudian dijadikan sebuah acuan dasar bagaimana esensi dari sebuah pembelajaran tersebut diaplikasikan dalam konteks kekinian.

Baca ini! 4 Skill Jitu Menjadi Mahasiswa Trendsetter Abad 21
Framework for 21st Century Learning Baca ini! 4 Skill Jitu Menjadi Mahasiswa Trendsetter Abad 21

Tujuan utama penulisan artikel ini adalah berbagi tips agar bagaimana kita menjadi seorang mahasiswa trendsetter, bukan menjadi mahasiswa kebanyakan yang hanya ikut ramai dan tidak menghasilkan makna apapun dalam hidupnya.

Mari kita bahas satu persatu secara singkat dari keempat skill tersebut.

1. Critical Thinking (berpikir kritis)

Mahasiswa harus melatih pikiran kritisnya dalam menerima segala informasi maupun sumber ilmu yang kemudian dipadukan dengan prinsip pemecahan masalah/problem solving. Critical thinking hakikatnya adalah melihat masalah dari berbagai sudut pandang masalah. Prof. Amin Abdullah dan UIN Sunan Kalijaga menyebutnya dengan istilah integrasi dan interkoneksi serta Inter-Multi Disipliner.

Mengapa mahasiswa mudah termakan isu/fake news/hoaks? Itu dikarenakan mahasiswa tersebut tidak memiliki pikiran kritis. Hanya berfungsi sebagai penerima dan penyebar informasi. Oleh karenanya, semakin banyak pendekatan yang digunakan oleh mahasiswa dalam berpikir kritis maka semakin banyak pula tawaran yang akan muncul sebagai pemecahan masalah.

2. Creativity (kreatifitas)

Kemampuan selanjutnya adalah mahasiswa dituntut melatih kreatifitasnya, Sebagai umat muslim, sejenak kita mengingat kembali wahyu pertama yang turun. Terdapat dua pesan yaitu bacalah! (read!) dan menciptakan (creating).

Sebelum melakukan kreatifitas maka mahasiswa harus terlebih dahulu banyak membaca. Membaca dan kreatifitas adalah dua unsur yang saling berkaitan.

Mengapa mahasiswa saat ini kurang daya kreatifitasnya? Salah satu sebabnya adalah bacaan yang ada hanya dijadikan sebagai memorizing/hafalan semata.

Tidak menjadi sesuatu nilai yang menggerakkan. Maka untuk menjadi seorang mahasiswa yang kreatif adalah dia akan senantiasa berpikir di luar kotak dan keluar dari zona nyaman beserta lapisan-lapisan mindset yang menyertainya.

3. Collaboration (kolaborasi)

Era saat ini mahasiswa tidak lagi hidup secara berkompetisi melainkan berkolaborasi atau meminjam istilah Prof. Ismail Suardi Wekke: “bersanding bukan bersaing.”

Mahasiswa era abad 21 ini harus memiliki kemampuan kolaborasi atau sinergi. Mahasiswa tidak dapat menyelesaikan persoalan dengan sendirinya apalagi saling menyalahkan.

4. Communication (komunikasi)

Komunikasi dapat terjalin dengan baik apabila dibangun spirit saling menghargai antar mahasiswa maupun dosen.

Spirit saling menghargai dalam ilmu komunikasi dapat dilakukan dengan prinsip REACH yaitu Respect/menghargai, Emphaty/peduli, Audible/didengar, Clarity/keterbukaan dan Humble/rendah hati.

Keempat kemampuan di atas secara teoretis mengacu kepada nilai (value) bersifat spritualis, filosofis dan soul/ kejiwaan.

Nilai-nilai yang terkandung dalam keempat kemampuan yang telah saya uraikan tersebut menjadi sebuah panduan dan akan mengantarkan seorang mahasiswa menjadi sebagai khairul ummah atau orang pilihan.

Semoga mahasiswa mampu menjadi panutan demi kemajuan ilmu pengetahuan.

*Artikel ini merupakan salah satu inti sari hasil perkuliahan bersama Prof. Dr. Muqowim, M.Ag. pada mata kuliah manajemen dan kurikulum pendidikan Islam, Sabtu 19 Desember 2020  

(Penulis adalah Alumni Magister IAIN Sorong-Papua Barat,  Saat ini melanjutkan studi Doktor di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta/Semester 1)