Terkini.id, Sorong – Dalam tradisi tertentu, perempuan menempati posisi superior. Seperti di Minang, kewenangan mewarisi dan menjadi panglima keluarga terletak pada perempuan.
Sebaliknya, dalam kondisi yang lain. Perempuan justru hanya mengurusi dapur, sumur, dan kasur saja.
Ini pulalah yang menjadi kegelisahan Kartini, dan banyak perempuan lain. Tak hanya Kartini saja.
Perempuan lain, juga berjuang dengan caranya masing-masing. Diantara mereka ada yang menjadi panglima perang seperti Cut Nyak Dhien, turut terjun ke medan perang.
Sementara itu, Hajjah Rangkayo Rasuna Said bergelut dalam politik. Menjadi politisi perempuan di tengah dominasi laki-laki, tentu tak mudah. Sekarang saja, betapa rumitnya suasana itu. Apalagi di zaman dulu.
Bagi Rasuna Said, politik hanyalah jalan untuk mewujudkan idealisme. Sementara itu, Rasuna Said tetap mengajar dan juga menerbitkan majalah sebagai bagian dari proses edukasi.
Perempuan lain, Siti Aisyah We Tenriolle yang juga Arung Pancana, sekarang dalam wilayah administrasi Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
Bukan saja sebagai bangsawan yang mengobarkan perlawanan terhadap Belanda, tetapi juga ilmuwan. Atas jasanyalah sehingga kita bisa mewarisi saat ini La Galigo. Dimana dalam tubuh Aisyah megalir darah Colliq Poedjie yang bergelar Arung Pancana. Perempuan yang mengandung dan mengasuh Aisyah.
Perempuan-perempuan itulah yang di tangannya tergenggam erat pedang atau senjata. Sementara yangan yang lain juga memegang pena. Semuanya karena spirit keagamaan.
Tidak lagi, hanya sekadar tunduk dan menerima pasrah apa yang menjadi “kodrat” dari masyarakat untuk mengurusi masalah domestik saja, tetapi juga turut turun ke gelanggang perang.
Menolak untuk tunduk, dan berjuang untuk menemukan solusi atas kondisi yang terjadi. Demikianlah perempuan Indonesia, selalu menjadi bagian terdepan dalam perjuangan dan kejuangan.
Selamat memeringati Hari Kartini, dalam Ramadhan.










