Madrasah Ramadan, Laku Menuju Taqwa Sekalipun Usai Idulfitri

Madrasah Ramadan, Laku Menuju Taqwa Sekalipun Usai Idulfitri

IS
Ismail Suardi Wekke

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Sorong – Kesempatan menjumpai ramadan sebuah anugerah yang teristimewa bagi setiap muslim. Dalam momentum yang berbahagia dan menggebirakan, ramadan dapat menjadi madrasah. Tempat belajar dengan waktu yang diganjar dengan pahala.

Allahuyarham Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA (wafat 28 April 2016) mengemukakan bahwa tidak cukup hanya dengan kegembiraan semata.

Perlu diteruskan dengan kemauan dan kemampuan menjalankan ibadah yang dikandung bulan ramadan dengan segenap iman.

Sementara itu, dapat juga dimaknai bahwa masa-masa ramadan sejatinya adalah madrasah itu sendiri. Kesempatan untuk melatihkan diri dan pada saat yang sama, menjadi ujian apakah ini bisa berkelanjutan usai ramadan berlalu.

Wujud godaan untuk hanya menunaikan segala ketaatan pada ramadan. Olehnya, ada yang mengingatkan  bahwa jangan sampai menghambakan diri pada ramadan semata. 

Tetapi ibadah yang dikandungnya perlu diteruskan dalam kesempatan di bulan-bulan berikutnya sampai ramadan kembali datang.

Sehingga ketika datangnya idulftri senyampang diraihnya predikat taqwa, selesai sudahlah semua apa yang ditunaikan selama ramadan dalam rangkaian ibadah.

Kedisiplinan terlatihkan di madrasah. Masalahnya usai tamat dari sekolah itu, kedisilinan yang dilakukan tidak lagi berkelanjutan. Ini merupakan tantangan tersendiri sehingga ramadan menjadi bagian nyata dalam kehidupan.

Dalam satu kebijakan pendidikan Indonesia dinamakan dengan pendidikan karakter. Sebagai madrasah, maka ramadan tentu menjadi peluang untuk melatihkan ini juga. Karakter yang terbentuk di ramadan akan tetap tersemai sampai kapanpun. Bahkan menjadi darah daging dalam mengiringi kehidupan yang dilakoni.

Sehingga dari ramadan ke ramadan. Kita senantiasa menjadikan hasil latihan itu sebagai sebuah kumparan yang telah terbentuk sejak pertama kali kita berjumpa dengan ramadan.

Alquran dalam Annahl: 92 mengingatkan jangan sampai kita seperti seorang yang menenun kain dengan susah payah. Setelah pintalan kainnya jadi, kemudian dicerai-beraikan kembali.

Perumpaan Alquran ini memesankan sejak awal bahwa perilaku yang kita lakukan dalam ramadan jangan pernah seperti itu. Dimana ada daya upaya menggapai semua kemuliaan ramadan. 

Setelahnya, hilang tak berbekas, karena individu muslim sendiri yang menghancurleburkan apa yang telah diraihnya selama ini.

Menjadikan ramadan sebagai madrasah, akan berbuah pada ijazah yang diraih. Dengan adanya ijazah itu akan digunakan sebagai bekal kehidupan. Sehingga predikat taqwa akan terus melekat sepanjang hayat dikandung badan.