Terkini.id, Sorong – Betapa sebuah kesyukuran. Mendirikan salat tarawih bersama keluarga. Memiliki hafalan yang memungkinkan menyelesaikan rangkaian tarawih dengan lengkap tanpa mengulangi surah setelah fatihah.
Begitu pula punya kesempatan untuk berbuka puasa dan bersahur bersama keluarga. Semasa menyiapkan hidangan berbuka bersama dan juga sesudahnya diisi dengan candaan bersama keluarga. Semuanya merupakan anugerah yang terlimpahkan tidak kepada setiap orang.
Hidangan untuk berbuka. Juga santapan sahur. Dapat memilih sesuai selera. Tanpa terhalangi oleh ketiadaan bahan makanan. Bahkan makanan dan hidangan tertentu hanya hadir semasa bulan puasa saja.
Ramadan 1443 H, dalam penanggalan masehi 2022. Kita menyelesaikan ramadan dalam suasana wabah. Dalam tahun ketiga ini, justru sudah ada adaptasi masing-masing dari kita. Kita mulai meredefinisi bagaimana ramadan yang baru sama sekali dengan kenormalan yang punya tolok ukur sendiri.
Betapa di kalangan masyarakat kita, masih ada yang tidak memiliki kesempatan untuk bersua dengan keluarga. Diantara mereka ada yang perlu bekerja mencari nafkah. Bahkan di masa-masa tarawih sekalipun, tetap harus bekerja.
Sehingga menunaikan tarawih, tidak lagi bisa dengan berjamaah di masjid.
Sekali lagi, semua yang dinikmati selama ramadan patut disyukuri. Sehingga menjadi sebuah kebahagiaan.
Terkadang, berharap lebih justru menjadi siksaan tersendiri.
Pesan orang tua “urusan kebendaan selalu lihat kepada yang di bawah. Sementara kalau terkait dengan amal salih, lihat ke atas”.
Ini menjadi pesan tersendiri. Betapa kenikmatan yang kita peroleh, tidak semua diberikan kepada setiap orang.
Maka, kuncinya adalah dengan menjadikan semua itu adalah kesyukuran. Janji Allah bahwa setiap kesyukuran akan menjadi jalan bertambahnya kenikmatan yang kita peroleh.
Ancamannya, kalau kufur. Maka, nikmat akan dicabut.
Belum lagi, puasa yang disempurnakan dalam sebulan berjalan dengan aman dan tanpa gangguan berarti.
Bandingkan dengan saudara muslim kita di Ukraina yang harus berpuasa ditemani dengan dentuman peluru dan ancaman kematian.
Maka, ketika mendapati ramadan dalam keadaan tentram. Merupakan sebuah anugerah tersendiri yang harus disyukuri. Bahkan lebih dari soal aman itu, kitapun bebas mengekspresikan keyakinan beragama kita masing-masing tanpa batasan.
Ramadan di tanah air, Indonesia. Dapat berjalan dengan sangat nyaman. Semuanya merupakan anugerah Yang Kuasa, Pemilik Semesta Alam. Ini harus menjadi sebuah kesyukuran, sehingga nikmat yang kita dapatkan akan terus ditambahkan dan juga mendapatkan keberkahan.










