Kongres HMI, Dalam Penantian Dimana Akhirnya

Kongres HMI, Dalam Penantian Dimana Akhirnya

IS
Ismail Suardi Wekke

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Sorong – sebagaimana rancangan awal, Kongres HMI XXXI Surabaya 2021, akan berakhir 22 Maret 2021.Hanya saja, sampai penanggalan 24 Maret 2021, tetap saja belum terselesaikan. Bahkan dalam maklumat yang tak terverifikasi, pengelola gedung tempat pelaksanaan kongres sudah meminta pemanfaatan auditorium.

Begitu pula penghentian dukungan komsumsi yang memang pada awalnya dirancang untuk sampai 23 Maret 2021.

Malam ini, masih saja penggembira yang datang dari timur Indonesia tetap berdatangan. Ketibaan mereka di Surabaya tak lain untuk menikmati denyutan pelaksanaan kongres.

Ketika saya menyergahnya untuk tidak perlu datang karena kongres akan berakhir, salah satu kader yang berangkat berujar “kongres akan berlangsung lama”.

Kalaulah apa yang disampaikan sang kader, bolehjadi kongres akan tetap berlangsung ataukah tanpa aktivitas sama sekali. Sebagaimana usai pembukaan 17 Maret 2021, kemudian sampai minggu yang kemudian menjadi pelaksanaan Pleno I.

Ada lima hari jeda, dimana panitia tidak mampu menghadirkan peserta ke ruang sidang. Saya teringat ketika menjadi bagian dari panasko Kongres XXV Makassar 2006. Dimana kehadiran peserta sama sekali tidak menjadi kuasa panitia.

Mereka justru tidak berada di asrama-asrama yang disiapkan panasko. Sebaliknya, mereka justru berada di lokasi yang disediakan tim pemenangan.

Para tim pemenangan itulah yang memegang kendali atas kesediaan hadir para peserta. Bolehjadi suasana yang sama tidak lagi serupa dengan lima belas tahun yang lalu.

Apalagi masa-masa pagebluk covid-19 yang mendera. Sehingga ada keterbatasan Langkah dan gerak para peserta. Begitu pula dengan panitia baik panasko maupun panitia lokal.

Satu hal yang menjadi kendala secara umum di Indonesia. Dimana bekerja bersama yang menjadi sukar diwujudkan. Justru kerap yang muncul adalah sama-sama bekerja tetapi tidak terhubung antara satu dengan yang lain.

Padahal, ada semangat gotong royong yang menjadi praktik dan diwariskan leluhur kita. Ataukah bisajadi kita tidka lagi mewarisi semangat itu lagi?. 

Kita tetap handal di medan bulutangkis. Tetapi kehilangan kemampuan di lapangan sepak bola. Medali emas sepak bola di kancah SEA Games tak lagi diraih setelah era 1980-an.

Jangan sampai syndrom ini juga menjadi bagian jatidiri HMI. Kalaupun itu terjadi, maka sudah menjadi realitas yang jamak terjadi.

Namun, pada HMI ada asa, harapan, dan juga doa yang senantiasa mengiringinya.

HMI, bukan saja menjadi tempat berhimpunnya intelektual muslim. Bagi kita alumni HMI, himpunan telah memberikan segalanya bagi menempa jalan semasa bermahasiswa.

Menemukan buku yang dibaca bersama, walau belum mampu membelinya. Atau hanya dimiliki oleh kawan yang baru saja pulang dari latihan kader di pulau Jawa.

Bukannya rasa malu yang muncul. Jsutru itu kesempatan untuk mengkaji bersama buku yang dibawanya.

Kembali ke penantian kini. HMI mestinya tetap bertahan. Kemampuan akseleratif di manapun perlu ditabalkan. 

Namun, realitas menunjukkan potret yang berbeda.

Di dunia maya atau dalam kata yang lain dunia digital, HMI juga kehilangan partisipasi. Semata-mata apa yang ada hari ini merupakan pilihan-pilihan dari gerakan kultural.

Ada saja individu ataupun kader yang menasbihkan diri untuk kebaktian dalam rangka menjaga HMI dalam caranya masing-masing.

Kitapun tetap menanti akhir yang indah. Dimana kongres ditutup dengan terpilihnya mandataris kongres yang akan mengawal himpunan dua tahun ke depan.

Melewati masa-masa sulit pagebluk, dan juga transformasi organisasi, sehingga HMI tetap aka nada sampai 74 tahun yang akan datang, bahkan setelahnya juga.