Ramadan dan Perayaan Keagamaan di Papua, Perjumpaan Antariman

Ramadan dan Perayaan Keagamaan di Papua, Perjumpaan Antariman

IS
Ismail Suardi Wekke

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Sorong – Sejak 2010, sebuah kesyukuran bisa menikmati Ramadan dengan nuansa yang beragam. Jika sebelumnya, Ramadan dengan lingkungan di masyarakat muslim saja. Baik di Makassar, dan begitu pula di Kuala Lumpur.

Untuk Ramadan 2010, saya mulai menjalankannya di kota Sorong. Dalam perjalanan waktu, juga sesekali berkunjung ke pulau Arar, ataupun beberapa tempat yang lain di Tanah Papua.

Bahkan dalam 2012, menghabiskan sepuluh hari di Bintuni. Perjalanan kala itu dari kota Sorong ke Bintuni dilalui dengan kapal kayu. Bonusnya, pulang dari Bintuni, bisa menjejakkan kaki ke Kokas, sekaligus menikmati sunset di tengah laut.

Perusahaan seperti Pertamina, dan juga kilang minyak lainnya di masa Ramadan, membentuk kepanitiaan tersendiri untuk mengatur penjadwalan dai. Sesekali, saya masuk dalam daftar untuk menyampaikan ceramah Ramadan.

Kesempatan itulah yang digunakan untuk menjelajah ke pelosok Tanah Papua. Menikmati Ramadan bersama jamaah masjid di perusahaan.

Dalam nuansa itu pulalah, kemudian buka puasa tidak saja dihadiri masyarakat muslim. Dalam pelbagai kesempatan, sekalipun tidak berpuasa bagi masyarakat Katolik, dan Protestan, juga tetap diundang.

Maka, buka puasa juga bermakna sebagai makan malam. Dimana menjadi pertemuan kekeluargaan. Jamak dijumpai dalam masyarakat Tanah Papua, dimana dalam satu rumpun keluarga tidak hanya satu agama saja.

Bahkan di Fak-fak, dikenal satu tungku tiga batu. Sementara di Raja Ampat, dikenal satu rumah empat pintu.

Sebuah keluarga, tidak hanya muslim saja, tetapi juga ada agama lain yang sama diterimanya sebagai keyakinan keluaga.

Tidak saja Ramadan, begitu pula dengan Natal. Datang, dan berjumpa dengan individu lintasiman merupakan hari-hari yang dilalui bersama.

Ketika Natal, masyarakat muslimpun turut memasak. Bahkan terkadang pemilik hajat memesan makanan di warung muslim, sekaligus dengan perangkat makannya. Sehingga perasanaan nyaman tercipta terkait dengan kehalalan makanan.

Betapa Indonesia ditopang oleh keragaman. Pada saat yang sama, persatuan sebagai Indonesia juga menjadi payung keberagamaan.

Baik Ramadan, maupun perayaan keagamaan lain justru menjadi sumber persatuan. Bukannya menjadi pelemah ataupun pemecahbelah kebangsaan.