Ramadan, Kepedulian Sekalipun di Media Sosial

Ramadan, Kepedulian Sekalipun di Media Sosial

IS
Ismail Suardi Wekke

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Sorong – Hidup tak sama lagi dengan masa lalu. Ada dua variabel yang menjadikannya berbeda. Pertama, media sosial. Kedua, pagebluk covid-19.

Keduanya kemudian mengubah dunia dalam pelbagai aspek. Bahkan dalam ekspresi beragama sekalipun.

Sisi manusia yang tak berubah adalah soal kepedulian. Dimana, dengan tetap menjaga jarak, serta tak bertemu langsung dengan kawan dan handai taulan. Tetap saja, kepedulian itu dapat dipertahankan.

Bahkan ketika buka puasa, tak lagi dapat berkumpul. Maka, remaja masjid mengirim buka puasa ke rumah warga. Begitu pula adanya buka puasa yang disiapkan bagi pengendara di jalanan. Dibagikan bagi mereka yang belum sampai ke tujuan.

Tidak saja melalui institusi pemerintahan, seperti Kementerian Agama RI, wujud pula Lembaga amil zakat, seperti Dompet Dhuafa (DD) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan, DD sekarang ini sudah mencapai 15 lokasi di manca negara.

Keberadaan DD di luar negara menjadi bagian dalam impelementasi turut dalam menjaga perdamaian dunia. Salah satunya di Amerika Latin. Dimana DD menjalin sinergitas dengan lembaga kemanusiaan di sana. Sebagai antisipasi kesiapsiagaan bencana.

Satu hal lagi, wujudnya kolaborasi DD dengan pelbagai jejaring antarbangsa membuktikan bahwa apa yang disampaikan Van Bruinessen tidak lagi relevan bahwa institusi keagamaan Indonesia hanya berada dalam geografis Indonesia semata.

Program DD, salah satunya adalah muballigh atau dai yang dikirim ke negara-negara dimana ada warga Indonesia. Mereka tergabung dalam korps dai DD.

Keberadaan DD, memanfaatkan instrument media sosial. Pengumpulan donasi dan juga zakat disebarkan salah satunya melalui platform media sosial.

Begitu pula dengan sebuah portal yang khusus dijadikan untuk pengumpulan donasi. Ini bukan saja untuk DD saja, tetapi komunitas, pesantren, dan institusi Pendidikan lainnya sebagai mitra pengumpul zakat, menjadikan laman web ini sebagai wadah pengumpulan dana.

Dalam suasana pagebluk covid-19, pengumpulan dana melalui instrument yang sudah ada semakin efektif. Seiring dengan tinggalnya warga di rumah masing-masing. 

Walau demikian, tetap saja kepedulian yang ada terjaga dan terhubung melalui salah satunya media sosial.

Penggunaan Facebook, Instagram, Twitter, dipenuhi dengan kesempatan untuk berdonasi. Bahkan para koki di Makassar, mengirimkan makanan berbuka dan sahur bagi mahasiswa yang tidak pulang kampung.

Sejatinya, media sosial hanyalah instrumen. Kepedulian yang sudah wujud kemudian mengkristal dalam pelbagai bentuknya. Tidak hanya dalam satu bentuk tetapi kemudian menyebar dalam pelbagai ragam sesuai konteks masing-masing masyarakat.