Terkini.id, Sorong – Alquran dalam Albaqarah 62 dan 134 memesankan bahwa kebenaran mutlaq dalam beragama bukanlah sebuah sikap sempurna. Dalam pelbagai masyarakat, tetap saja ada kebaikan dalam bentuknya masing-masing.
Maka, mendakwahkan kebaikan tidaklah memungkinkan untuk hanya fanatisme golongan semata. Tetapi lebih kepada kemaslahatan awam.
Agama sendiri berdiri dengan topangan pelbagai norma yang juga tidak hanya satu. Maka, kesalehan seorang hamba multidimensi. Bukan pada kesalehan dalam bentuk ibadah semata. Kemanfaatan sosial juga perlu diwujudkan.
Maka, tidaklah sempurna seorang hamba ketika semua salatnya lengkap. Namun, tetangganya lapar tak terbela sama sekali. Begitu pula jika melihat satu sisi, dermawan dalam pelbagai kesempatan tetapi tidak mendirikan salat.
Multidimensi itulah yang kemudian mewujudkan kesempurnaan beragama. Tidak tunggal, dan hanya satu perilaku saja.
Kehidupan dunia, menjadikan kesempatan untuk mengambil manfaat. Namun, tidak berhenti di situ. Ada tuntutan untuk menghindari kerusakan. Surah Al Qashash memberikan pesan bahwa kerusakan haruslah senantiasa dihindari.
Ketika wujud kerusakan, maka itu semata-mata datangnya dari tangan-tangan manusia.
Setiap kerusakan akan berkontribusi bagi datangnya bencana. Penebangan pohon yang tidak diperhitungkan, akan mendorong tanah longsor dan pada saat tertentu juga banjir.
Kesemua ini bahkan sudah diperingatkan oleh Islam sebagai sebuah sistem kehidupan. Maka, menerima Islam artinya menerima secara keseluruhan. Tidak hanya pada bagian tertentu semata.
Mulai dari bangun tidur, sampai tidur kembali. Artinya aktifitas apapun diantara keduanya tetap harus dijalankan dengan panduan keberislaman.
Olehnya, beragama adalah menyembah pada Sang Khalik dalam pelbagai kesempatan. Tidak hanya ketika berada di masjid saja. Melainkan dalam pelbagai kesempatan, dalam setiap detik kehidupan itu sendiri.
Iman tak ditanggalkan dan disematkan di tempat ibadah saja. Setelahnya, kemudian menjadi nir iman dalam kesempatan berikutnya. Pada sebuah masjid diliputi kekhusyuan, apabila berada di kantor justru korup.
Keberagamaan harus tetap berada dalam situasi apapun. Sebagai pondasi beraktifitas dan juga melekat dalam perilaku seorang hamba. Ketakutannya bukan pada agama itu sendiri melainkan pada hanya Yang Kuasa.










